Posted by Sagusavi
Posted on 7:53 AM
with No comments
A. Film Pendek "Kalyana Mitta
Film ini menceritakan suatu persahabatan dari sejak kecil yang kemudian sempat terpisah selama 7 tahun. Para pemain terdiri dari dua siswa-siswi kelas 1 sekolah dasar, dua siswa-siswi kelas 7 SMP dan satu siswi SMA kelas 12.
Menjelaskan tentang Kalyana Mitta, bahwa sahabat yang baik atau sahabat sejati itu walau sudah terpisah pasti akan berjumpa kembali.
Berikut ini deskripsi lengkap tentang Kalyana Mitta:
Kalyanamittaadalah sahabat sejati .
Kita hendaknya dapat membedakan antara sahabat sejati dengan sahabat palsu. Ciri sahabat sejati adalah seorang sahabat yang senantiasa :
1. Siap dan mampu membantu kita dengan cara yang baik2. Memiliki rasa simpati kepada kita baik didalam keadaan suka maupun duka3. Menunjukkan hal-hal yang berguna kepada kita4. Memiliki rasa persahabatan yang akrab Sahabat yang siap dan mampu membantu kita dengan cara yang baik, maksudnya: Melindungi dan memperingatkan kita pada saat kita lengah, atau tidak waspadaØ Melindungi harta kekayaan kita dalam keadaan kita lengah dan tidak waspadaØ Melindungi kita dalam keadaan bahayaØ Sahabat yang memiliki rasa simpati kepada kita baik didalam keadaan suka maupun duka, maksudnya :• Membuka rahasia pribadinya kepada kita sebagai sahabat sejati• Menjaga rahasia kita dan tidak membocorkannya kepada orang lain• Tidak meninggalkan kita pada saat kita mengalami banyak masalah• Bersedia mengorbankan kepentingan pribadinya demi kepentingan sahabatnya Sahabat yang menunjukkan hal-hal yang berguna kepada kita, maksudnya :• Mencegah berbuat kejahatan• Menganjurkan kita melakukan kebaikan• Memberitahukan kita hal-hal yang belum pernah kita dengar• Memberitahu kita cara-cara mencapai alam kebahagiaan Sahabat yang memiliki rasa persahabatan yang akrab, maksudnya :• Ikut merasakan penderitaan kita pada saat kita susah• Merasa bahagia bila kita mendapatkan kebahagiaan• Membela kita apabila kita terkena masalah• Membenarkan siapa saja yang memuji kita
Film Pendek "Kalyana Mitta"
B. Film Pendek "Panca Dhamma"
Film ini menceritakan tentang seorang pelajar yang kebingungan mencari catatan materinya tentang Panca Dhamma. Kemudian datanglah temannya yang membantu menjelaskan kembali tentang Panca Dhamma. Film ini menggunakan Bahasa Jawa dan ada subtitlenya. Diperankan oleh dua siswa SMP N 1 Patean Kelas VII.
Berikut ini penjelasan singkat tentang Panca Dhamma:
METTA-KARUNA: Cinta kasih dan belas kasihan (Kebajikan pertama ini sama dengan sila pertama dari Pancasila Buddhis).
SAMMA-AJIVA: Pencaharian benar ( Kebajikan kedua ini sama dengan sila kedua dari Pancasila Buddhis).
KAMA-SAMVARA: Penahanan diri terhadap napsu indera (Kebajikan ketiga ini sama dengan sila ketiga dari Pancasila Buddhis).
SACCA: Kebenaran, yaitu benar dalam perbuatan, perkataan dan pikiran (Kebajikan keempat ini sama dengan sila keempat dari Pancasila Buddhis).
SATI-SAMPAJANNA: Kesadaran benar (Kebajikan kelima ini sama dengan sila kelima dari Pancasila Buddhis).
CATATAN:
~ Bila ingin melaksanakan Pancasila Buddhis secara sempurna, wajib memperkembangkan dalam diri Panca-Dhamma, sehingga perbuatan dan perkataan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari tidak bertentangan dengan Pancasila Buddhis.
~ Ada kalanya Panca-dhamma ini disebut juga Kalyana-dhamma 5.
Posted by Sagusavi
Posted on 10:54 PM
with 1 comment
Salam Kreatif dan Inovatif,
Setelah beberapa waktu tidak sempat posting untuk blog ini, perkenankan aku kembali berbagi pengalaman tentang membuat video pembelajaran. Kali ini masih seputar video pembelajaran Pendidikan Agama Buddha Sekolah Dasar Kelas V dengan Tema "Dana Materi" yang simainkan oleh siswa siswi SDku di bantu dua siswi SMA-ku.
Nah, dalm proses pembuatan video ini awalnya di buat sinopsis dengan tema sesuai dalam pelajaran kelas V SD, yaitu tentang Dana Materi. Sinopsis yang kemudian dikembangkan menjadi skenario aku buat bersama sama dengan siswa siswi SD-ku.
Setelah proses penulisan skenario selesai, kemudian anak-anak latihan dialog, dan setelah memahami skenario baru selanjutnya diadakan pengambilan gambar atau shooting. Dalam pengambilan gambar ini aku memanfaatkan peralatan yang sederhana, tidak menggunakan kamera atau handycam yang besar, namun cukup menggunakan Camera Digital (Camera Poket) dan Handphone Android. Memang hasil kurang maksimal karena adanya perbedaan kualitas gambar video. namun yang terpenting disini adalah esensi dari pembelajaran terkait materi pelajaran yang anak-anak pahami. Orientasinya bukan pada hasil film jadi, namun pada proses pembuatan film/video pembelaran yang langsung melibatkan siswa sebagai pemeran maupun kameramen. Yang tentu memberikan pengalaman tersendiri bagi anak-anak untuk belajar menjadi lebih percaya diri dan menambah wawasan dalam bidang broadcasting ataupun film.
Dan sayangnya, sampai aku posting tulisan ini, mencari-cari foto dokumentasi proses pengambilan gambar tidak ketemu juga yang sepertinya secara tidak sengaja kehapus.
Berikut ini adalah hasil dari proses pengambilan gambar yang aku lakukan bersama anak-anak dan aku lakukan secara bertahap :
Video Pembelajaran PAB SD Tentang "Dana Materi"
Untuk rekan-rekan yang ingin belajar dalam pembuatan video pembelajaran ini, sudah aku siapkan beberapa tips dalam bentuk power point. Silahkan Download disini.
Posted by Widi Astiyono
Posted on 3:35 AM
with No comments
Saat Shooting
Video pembelajaran PAB ini merupakan rilis terbaru di tahun 2015. Hasil kerjasama SBC Kendal dengan Forum Pelajar Buddhis Kabupaten Kendal.
Pemeran dalam video ini merupakan siswa - siswi Buddhis SMA dan SMK di Kabupaten Kendal, yaitu SMAN 2 Sukorejo dan SMKN 6 Kendal kelas X dan XI.
Semoga dengan adanya video ilustrasi ini bisa memberikan manfaat bagi pendidikan agama Buddha sebagai salah satu sumber belajar.
Motivasi lain dalam pembuatan video ini tentu untuk menambah semangat pelajar Buddhis Kendal dalam belajar Pendidikan Agama Buddha, belajar dengan bermain peran.
Materi yang di bawakan dalam video ini adalah sub materi pelajaran PAB kelas XI tentang Sila ke-5 yaitu ;
Menghindari Minum Minuman Keras yang
Menyebabkan Lemahnya Kesadaran.
Ada empat faktor untuk dapat disebut
mabuk-mabukan
a. Ada
sesuatu yang merupakan Sura, Meraya, atau Majja, yaitu sesuatu yang membuat nekat, mabuk, tak
sadarkan diri, yang menjadi dasar dari
kelengahan dan kecerobohan
b. Mempunyai
keinginan untuk menggunakannya
c.
Menggunakannya
d.
Timbul gejala mabuk
atau sudah menggunakannya (meminumnya) hingga masuk melalui tenggorokan
Akibat yang dapat timbul karena
melanggar sila kelima
a. Dalam
Avguttara Nikaya, Sutta Pitaka, Sang Buddha Gotama menekankan betapa besar akibat negatif yang
ditimbulkan dari pemabukan: ”Duhai
para bhikkhu, peminum
minuman keras secara
berlebihan dan terus-menerus
niscaya dapat menyeret
seseorang dalam alam
neraka, alam binatang,
alam iblis.
Akibat paling ringan yang ditanggung oleh mereka yang
karena kebajikan lain, terlahirkan
sebagai manusia ialah menjadi orang
gila/sinting”.
b. Dalam bagian lain, Beliau juga mengatakan:
”Ada tiga macam hal, duhai para bhikkhu,
yang apabila dilakukan tidak pernah
dapat membuat kenyang.
Apakah tiga macam
hal itu? Tiga
macam hal itu
ialah bertiduran, bermabuk-mabukan, dan
bersetubuhan”.
c. Terlahirkan
kembali sebagai orang
gila; tingkat kesadaran/ kewaspadaannya rendah;
tidak memiliki kecerdasan;
tidak mempunyai banyak
pengetahuan; bersifat ceroboh;
pikun; pemalas; sulit
mencari pekerjaan; sukar
memperoleh kepercayaan orang
lain.
Posted by Widi Astiyono
Posted on 12:56 PM
with No comments
Video Ilustrasi Tentang Pelaksanaan Sila ke-2 Pancasila Buddhis
Saat pengambilan gambar/shooting
Adinnadana veramani sikkhapada samadiyami
Adalah aku bertekad akan melatih diri menghindari dari pencurian. Semua agama juga mengajarkan untuk tidak mencuri. Dalam agama Buddha, mencuri adalah pelanggaran sila kedua. Buddha mengajarkan bahwa akibat mencuri akan membawa penderitaan bagi si pencuri itu sendiri. Hal ini diuraikan jelas di dalam kitab Samyutta Nikaya (III, 15). Ketika beliau berkata kepada para bhikkhu bahwa manusia mencuri akan berakibat: “ia akan terus merampok/ mencuri, hingga saat tindakan tersebut menjadi penyebab kematiannya”.
Jadi si pelaku itu akan terus mencuri, sebelum dia menyesal bahwa pencurian mengakibatkan dia terlahir di alam rendah. Untuk itu dia harus menyadari bahwa mencuri itu adalah perbuatan yang buruk serta melanggar sila. Akibat melanggar sila adalah si pelaku terlahir di alam apaya 4.
Suatu pencurian telah terjadi bila terdapat lima faktor, sebagai berikut :
a. Ada sesuatu/barang/benda milik pihak lain
b. Mengetahui bahwa barang itu ada pemiliknya
c. Berpikir untuk mencurinya
d. Berusaha untuk mencurinya
e. Berhasil mengambil barang itu melalui usaha tersebut
Yang dimaksud dengan berhasil melalui usaha itu adalah apabila barang itu telah berpindah dari tempat semula. Misalnya seseorang mengambil handphone, dan handphone itu sudah berpindah dari tempatnya, itu sudah dikatakan mencuri. Contohnya lagi, ketika seseorang mencuri dan tiba-tiba pemiliknya datang, dan kemudian ia mengembalikkan barang tersebut kepada pemiliknya, ia sudah dikatakan mencuri, karena barang tersebut sudah berpindah dari tempatnya. Pelanggaran sila berakibat sangat buruk, sesuai dengan kekuatan kehendak untuk mencuri, nilai barang yang dicuri dan tingkat kemajuan rohani pemiliknya (orang suci).
Bila kita tidak mau kehilangan apa yang kita miliki, kita tidak boleh mengambil barang milik orang lain. Seseorang hendaknya memiliki rasa saling menghargai kepemilikkan orang lain terhadap benda tersebut. Jadi dengan menghargai kepemilikkan orang lain, kita juga menghargai benda yang kita miliki.
Posted by Widi Astiyono
Posted on 11:20 AM
with No comments
Materi Pelajaran Kelas IV
Empat Peristiwa Yang Dilihat pangeran Sidharta
1. Peristiwa Pertama dan Kedua
Ketika Pangeran Siddharta
menginjak usia 29 tahun, suatu hari muncul keinginannya untuk mengunjungi Taman Kerajaan.
Beliau memerintahkan kusirnya, “Channa, siapkan kereta. Aku akan berkunjung ke
Taman Kerajaan.” “Baiklah,” jawab Channa yang segera menyiapkan kereta. Kereta
itu ditarik oleh empat ekor kuda berwarna putih bersih. Kecepatannya bagaikan
burung garuda, raja segala burung
a. Melihat Orang Tua
Ketika Pangeran sedang
berada dalam perjalanan menuju Taman Kerajaan, para Dewa Brahma di alam
Suddhavasa berunding, “Waktunya bagi Pangeran Siddharta untuk menjadi Buddha
makin dekat. Mari kita perlihatkan pertanda yang akan membuat Pangeran
melepaskan keduniawian dan menjadi petapa.” Mereka menyuruh salah satu Dewa Brahma
di alam Suddhavasa menyamar sebagai orang tua. Orang tua itu berambut putih,
tidak bergigi, punggungnya bungkuk dan berjalan gemetaran menggunakan tongkat.
Orang tua itu penjelmaan dewa dan dia tidak dapat dilihat orang lain selain
Pangeran Siddharta dan kusirnya.
Saat melihat orang tua,
Pangeran bertanya kepada Channa, “Channa, rambut orang itu tidak seperti orang
lain, rambutnya semua putih. Badannya juga tidak seperti badan orang lain,
giginya tidak ada, badannya kurus kering, punggungnya bungkuk, dan gemetaran.
Disebut apakah orang itu?” Channa menjawab, “Yang Mulia, orang seperti itu
disebut orang tua.” Pangeran Siddharta belum pernah mendengar kata ‘orang tua’ apalagi
melihatnya. Ia bertanya lagi kepada Channa, “Channa, belum pernah Aku melihat
yang seperti ini, yang rambutnya putih, tidak
bergigi, begitu kurus, dan
gemetaran dengan punggung bungkuk. Apakah artinya orang tua?” Channa menjawab, “Yang
Mulia, orang yang telah hidup lama disebut orang tua. Orang tersebut hanya
memiliki sisa hidup yang pendek.” Pangeran kemudian bertanya, “Channa,
bagaimana itu? Apakah Aku juga akan menjadi orang tua? Apakah Aku tidak dapat
mengatasi usia tua?” Channa menjawab, “Yang Mulia, semua, termasuk Anda, juga
saya, akan mengalami usia tua. Tidak seorang pun yang dapat mengatasi usia tua.”
Pangeran berkata, “Channa, jika semua manusia tidak dapat mengatasi usia tua,
Aku juga akan mengalami usia tua. Aku tidak ingin lagi pergi ke Taman Kerajaan
dan bersenang-senang. Berbaliklah dari tempat ini dan pulang ke istana.” “Baiklah,
Yang Mulia,” jawab Channa.
b. Melihat Orang Sakit
Setelah empat bulan berlalu
dalam kemewahan hidup, Pangeran Siddharta pergi lagi mengunjungi Taman
Kerajaan. Pangeran Siddharta mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda putih
seperti sebelumnya. Di perjalanan, Pangeran melihat pertanda yang diciptakan
oleh para dewa untuk kedua kalinya. Pangeran melihat orang yang terbaring lemah.
Orang itu sangat kesakitan diserang penyakit. Dia hanya dapat duduk dan
berbaring jika dibantu oleh orang lain. Dia berbaring lemah di tempat tidurnya
dengan ditutupi kotorannya sendiri. Pangeran bertanya kepada kusirnya, “Channa,
mata orang itu tidak seperti mata orang lain, terlihat lemah dan goyah.
Suaranya juga tidak seperti orang lain, ia terus-menerus menangis. Tubuhnya
juga tidak seperti tubuh orang lain. Terlihat seperti kelelahan. Disebut apakah
orang seperti itu?” Channa menjawab, “Yang Mulia, orang
seperti itu disebut orang sakit’.” Pangeran
Siddharta belum pernah melihat orang sakit sebelumnya,
bahkan mendengar kata ‘orang sakit’ saja belum pernah. Dia bertanya lagi kepada kusirnya, “Channa, Aku belum pernah
melihat orang seperti itu. Duduk dan berbaring
harus dibantu oleh orang lain. Tidur di
tumpukan kotorannya sendiri dan terus-menerus menjerit. Apakah orang sakit itu? Jelaskanlah kepada-Ku.” Channa menjawab, “Yang Mulia, orang sakit adalah
orang yang tidak mengetahui apakah dia akan
sembuh atau tidak dari penyakit yang
dideritanya saat ini.” Pangeran
bertanya lagi, “Channa, bagaimana ini? Apakah Aku juga bisa sakit? Apakah Aku
tidak dapat mengatasi penyakit?” Channa menjawab, “Yang Mulia, kita semua,
termasuk Anda juga saya, akan menderita sakit dan tidak seorang pun yang dapat
terhindar dari penyakit.” Pangeran berkata, “Channa, jika semua manusia tidak
dapat terhindar dari penyakit, Aku juga akan menderita sakit, Aku tidak ingin
pergi lagi ke Taman Kerajaan dan bersenang-senang di sana. Berbaliklah dari tempat
orang sakit tadi terlihat dan pulang ke istana.” “Baiklah, Yang Mulia,” jawab
Channa.
2. Peristiwa Ketiga dan Keempat
Suatu ketika, Pangeran Siddharta
tertipu dan tertarik oleh lima kenikmatan indria. Tipuan itu diatur oleh
ayah-Nya, Raja Suddhodana. Hal itu untuk menghalang-halangi-Nya melepaskan
keduniawian dan menjadi petapa.
a. Melihat Orang Mati
Setelah empat bulan berlalu dalam
kemewahan hidup, Pangeran Siddharta pergi lagi mengunjungi Taman Kerajaan.
Pangeran mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda putih seperti sebelumnya. Di
perjalanan Pangeran melihat pertanda yang diciptakan oleh para dewa untuk
ketiga kalinya. Saat itu, banyak orang berkumpul. Ada tandu jenazah yang
berhiaskan kain berwarna-warni. Pangeran bertanya kepada kusirnya, “Channa,
mengapa orang-orang ini berkumpul? Mengapa mereka mempersiapkan tandu yang
dihias kain berwarna-warni?” Channa menjawab, “Yang Mulia, orang-orang itu
berkumpul dan mempersiapkan sebuah tandu karena ada seseorang yang mati.” Pangeran
belum pernah melihat orang mati sebelumnya, bahkan mendengar kata ‘orang mati’
saja belum pernah. Dia bertanya lagi kepada kusirnya, “Channa, jika mereka
berkumpul dan mempersiapkan sebuah tandu, antarkan Aku ke tempat orang mati
itu.” Si kusir menjawab, “Baiklah, Yang Mulia,” dan mengarahkan keretanya menuju
tempat orang mati itu dibaringkan. Ketika Pangeran melihat orang mati itu, Dia
bertanya, “Channa, apakah orang mati itu?” Si kusir menjawab, “Yang Mulia, jika
seseorang mati, sanak saudaranya tidak akan dapat bertemu dengannya lagi. Dia
juga tidak dapat bertemu dengan sanak saudaranya.” Pangeran bertanya lagi, “Channa,
bagaimana ini? Apakah Aku juga bisa mati seperti orang itu? Apakah Aku tidak
dapat mengatasi kematian? Apakah ayah-Ku, ibu-Ku, dan sanak saudara-Ku tidak
dapat bertemu dengan-Ku lagi suatu hari nanti? Apakah Aku juga tidak akan
bertemu dengan mereka lagi suatu hari nanti?” Channa menjawab, “Yang Mulia,
kita semua, termasuk Anda juga saya, pasti mengalami kematian dan tidak seorang
pun yang dapat terhindar dari kematian.” Pangeran berkata, “Channa, jika semua
manusia tidak dapat menghindar dari kematian, Aku juga akan mengalami kematian.
Aku tidak ingin lagi pergi ke Taman Kerajaan dan bersenang-senang di sana. Berbaliklah
dari tempat orang mati ini dan pulang ke istana.” “Baiklah, Yang Mulia,” jawab
Channa.
b. Melihat Petapa
Setelah empat bulan berlalu dalam
kemewahan hidup, Pangeran Siddharta pergi lagi mengunjungi Taman Kerajaan.
Pangeran mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda Kanthaka seperti sebelumnya.
Di perjalanan itu, Pangeran melihat pertanda yang diciptakan oleh para dewa
untuk keempat kalinya. Seorang petapa dengan kepala gundul, janggut dicukur dan
mengenakan jubah berwarna kulit kayu. Pangeran berkata. “Channa, kepala orang
ini tidak seperti kepala orang-orang lain, kepalanya dicukur bersih dan
janggutnya juga tidak ada. Pakaiannya juga tidak seperti pakaian orang-orang
lain, berwarna seperti kulit kayu. Disebut apakah orang seperti itu?” Channa
menjawab, “Yang Mulia, dia adalah Petapa.”
Pangeran Siddharta bertanya lagi,
“Channa, apakah ‘Petapa’ itu? Jelaskanlah kepada-Ku!” Channa menjawab, “Yang
Mulia, petapa adalah seseorang yang berpendapat bahwa lebih baik melatih
sepuluh kebajikan. Hal itu dimulai dari kedermawanan, telah melepaskan
keduniawian dan mengenakan jubah berwarna kulit kayu. Dia adalah seorang yang
berpendapat lebih baik melatih sepuluh perbuatan baik yang sesuai kebenaran,
bebas dari noda, suci dan murni. Dia adalah seorang yang berpendapat lebih baik
tidak melakukan perbuatan yang dapat menyakiti makhluk lain dan berusaha untuk
menyejah-terakan makhluk lain.”
Sumber : Buku PAB Kelas 4 SD
Materi di ilustrasikan dalam sebuah video Pembelajaran oleh siswa siswi agama Buddha SDN 2 Plososari Patean.
Posted by Widi Astiyono
Posted on 8:16 AM
with 2 comments
Materi Pendidikan Agama Buddha Kelas XI SMA/SMK
Materi : SILA
Sub Materi : Penerapan Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-hari
Saat Pengambilan gambar
Sila 1 Pancasila Buddhis
Panatipata veramani sikkhapada samadiyami (aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup)
Yaitu aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup. Kita sebagai umat Buddha seharusnya menghindari diri dari pembunuhan makhluk hidup. Kita tidak boleh membunuh baik dari hewan yang paling kecil seperti semut, kutu sampai hewan yang besar.
Suatu pembunuhan telah terjadi apabila terdapat lima faktor, yaitu:
Ada makhluk hidup.
Mengetahui bahwa makhluk itu masih hidup.
Berniat untuk membunuh.
Melakukan usaha untuk membunuh.
Makhluk tersebut meninggal karena usaha itu (Tim Penyusun :2003:29).
Apabila terdapat faktor dalam suatu tindakan pembunuhan, maka telah terjadi pelanggaran sila pertama. Karena sila sangat berpengaruh pada kamma, dan kamma inilah yang akan membawa kemana kita akan terlahir kembali. Untuk itu hindarilah diri kita dari perbuatan pembunuhan. Senantiasa menginginkan kesejahteraan bagi semua makhluk dilandasi dengan rasa cinta kasih. Jadi seorang umat yang melanggar pembunuhan hidupnya tidak tenang, umurnya relatife pendek, dan cenderung memiliki penyakit.
Dalam Samyutta Nikaya (III, 15) Buddha mengajarkan bahwa “pembunuh melahirkan pembunuh”. Di kisahkan seperti cerita dari keturunan Raja Bimbisara. Keturunan Raja Bimbisara ini adalah mereka yang membunuh ayahnya masing-masing. Salah satunya adalah anak dari Raja Bimbisara yaitu Raja Ajatasattu yang membunuh Raja Bimbisara atau ayahnya. Ini adalah kisah singkat mengenai pembunuh melahirkan pembunuh.
Materi tersebut di ilustrasikan dalam sebuah tayangan video oleh siswa siswi SMAN 2 Sukorejo Kendal Jawa Tengah.
Posted by Widi Astiyono
Posted on 11:46 PM
with 6 comments
Sesuai rencana yang pernah saya tuliskan, pada hari Minggu 28 September 2014, telah dilaksanakan shooting/pengambilan gambar video Pembelajaran Pendidikan Agama Buddha untuk kelas 4 SD dengan Tema "Masa Remaja Pangeran Sidharta", sub Tema "Tiga Istana pangeran Sidharta". Dalam pembuatan video ini, masih banyak mengalami kekurangan, sehingga hasilnya juga belum maksimal. Perlu diketahui bahwa semua crew pembuatan video ini adalah pelajar Buddhis tingkat SLTP dan SLTA di Kabupaten Kendal,yang baru pertama kali terlibat dalam sebuah pembuatan film/shooting. Memang ini menjadi visi dan misi saya untuk memberikan multi pembelajaran dalam Pendidikan Agama Buddha, selain mendapat pelajaran teori agama Buddha, juga memberikan pembelajaran yang lain, salah satunya adalah tentang Broadcasting, pembuatan film dan video clip. Hal ini saya lakukan untuk memberikan motivasi dan inspirasi bagi setiap anak didik saya dan meningkatkan kemampuan kreatifitas mereka untuk bisa lebih maju. Hasil yang belum maksimal dapat dilihat dari beberapa adegan yang masih terkesan kaku dan kurang fokus, walau sudah melakukan beberapa kali "take"/pengulangan, juga adanya beberapa "kebocoran", yaitu adanya obyek lain yang tidak seharusnya muncul, namun kena shoot.
Namun demikian bagi saya ini merupakan sebuah karya yang membanggakan karena dapat memotivasi anak didik saya untuk lebih giat dan semangat dalam belajar serta menggali potensi diri.
berikut beberapa foto kegiatan saat pengambilan gambar :
Foto bareng crew dan pemain setelah selesai shooting
Saat pengambilan gambar
Saat pengambilan gambar
Saat pengambilan gambar di vihara
Semoga video ini bermanfaat, dan bisa memberikan inspirasi bagi seiapapun yang melihatnya dan semoga bermanfaat. Tidak lupa saya mohon kritik dan saran, silahkan tulis di ruang komentar atau kirim ke e-mail : widiastiyono@yahoo.com / akangwidi@gmail.com.