- Mari Terus Belajar, Berinovasi, Berkreasi dan Berkarya -

Rilis Terbaru, Film Pendek Sebagai Video Pembelajaran Pendidikan Agama Buddha


A. Film Pendek "Kalyana Mitta

Film ini menceritakan suatu persahabatan dari sejak kecil yang kemudian sempat terpisah selama 7 tahun. Para pemain terdiri dari dua siswa-siswi kelas 1 sekolah dasar, dua siswa-siswi kelas 7 SMP dan satu siswi SMA kelas 12. 



Menjelaskan tentang Kalyana Mitta, bahwa sahabat yang baik atau sahabat sejati itu walau sudah terpisah pasti akan berjumpa kembali.








Berikut ini deskripsi lengkap tentang Kalyana Mitta:
Kalyanamittaadalah sahabat sejati .
Kita hendaknya dapat membedakan antara sahabat sejati dengan sahabat palsu. Ciri sahabat sejati adalah seorang sahabat yang senantiasa :
1. Siap dan mampu membantu kita dengan cara yang baik2. Memiliki rasa simpati kepada kita baik didalam keadaan suka maupun duka3. Menunjukkan hal-hal yang berguna kepada kita4. Memiliki rasa persahabatan yang akrab
Sahabat yang siap dan mampu membantu kita dengan cara yang baik, maksudnya: Melindungi dan memperingatkan kita pada saat kita lengah, atau tidak waspadaØ Melindungi harta kekayaan kita dalam keadaan kita lengah dan tidak waspadaØ Melindungi kita dalam keadaan bahayaØ
Sahabat yang memiliki rasa simpati kepada kita baik didalam keadaan suka maupun duka, maksudnya :• Membuka rahasia pribadinya kepada kita sebagai sahabat sejati• Menjaga rahasia kita dan tidak membocorkannya kepada orang lain• Tidak meninggalkan kita pada saat kita mengalami banyak masalah• Bersedia mengorbankan kepentingan pribadinya demi kepentingan sahabatnya
Sahabat yang menunjukkan hal-hal yang berguna kepada kita, maksudnya :• Mencegah berbuat kejahatan• Menganjurkan kita melakukan kebaikan• Memberitahukan kita hal-hal yang belum pernah kita dengar• Memberitahu kita cara-cara mencapai alam kebahagiaan
Sahabat yang memiliki rasa persahabatan yang akrab, maksudnya :• Ikut merasakan penderitaan kita pada saat kita susah• Merasa bahagia bila kita mendapatkan kebahagiaan• Membela kita apabila kita terkena masalah• Membenarkan siapa saja yang memuji kita



Film Pendek "Kalyana Mitta"

B. Film Pendek "Panca Dhamma"


Film ini menceritakan tentang seorang pelajar yang kebingungan mencari catatan materinya tentang Panca Dhamma. Kemudian datanglah temannya yang membantu menjelaskan kembali tentang Panca Dhamma. Film ini menggunakan Bahasa Jawa dan ada subtitlenya. Diperankan oleh dua siswa SMP N 1 Patean Kelas VII.



Berikut ini penjelasan singkat tentang Panca Dhamma:
  1. METTA-KARUNA: Cinta kasih dan belas kasihan (Kebajikan pertama ini sama dengan sila pertama dari Pancasila Buddhis).
  2. SAMMA-AJIVA: Pencaharian benar ( Kebajikan kedua ini sama dengan sila kedua dari Pancasila Buddhis).
  3. KAMA-SAMVARA: Penahanan diri terhadap napsu indera (Kebajikan ketiga ini sama dengan sila ketiga dari Pancasila Buddhis).
  4. SACCA: Kebenaran, yaitu benar dalam perbuatan, perkataan dan pikiran (Kebajikan keempat ini sama dengan sila keempat dari Pancasila Buddhis).
  5. SATI-SAMPAJANNA: Kesadaran benar (Kebajikan kelima ini sama dengan sila kelima dari Pancasila Buddhis).

CATATAN:
~ Bila ingin melaksanakan Pancasila Buddhis secara sempurna, wajib memperkembangkan dalam diri Panca-Dhamma, sehingga perbuatan dan perkataan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari tidak bertentangan dengan Pancasila Buddhis.

~ Ada kalanya Panca-dhamma ini disebut juga Kalyana-dhamma 5.
(Dighanikaya III.235, Anguttaranikaya III.203).



Cerita Jataka - Kura - Kura Yang Bawel (Cerewet)


KACCHAPA-JĀTAKA
Sumber : Indonesia Tipitaka Center

“Kura-kura ingin berbicara,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Kokālika (Kokalika).
Cerita pembukanya akan dikemukakan di  dalam Mahātakkāri-Jataka129. Di sini kembali Sang Guru berkata: “Ini bukan pertama kalinya, Para Bhikkhu, Kokalika dirusak (reputasi)-nya karena berbicara, tetapi dia juga sama seperti sebelumnya.”
Dan kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.
____________________
Dahulu kala Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir di istana, tumbuh dewasa, menjadi penasihat raja dalam segala urusan pemerintahan dan spiritual. Tetapi raja ini sangat suka berbicara; ketika dia berbicara, tidak ada kesempatan untuk yang lainnya mengucapkan sepatah kata pun. [176] Dan Bodhisatta menunggu suatu kesempatan, berharap dapat menghentikan pembicaraannya yang banyak itu.
Kala itu di sana terdapat seekor kura-kura yang menetap di sebuah kolam di daerah Himalaya.
Dua angsa muda liar, ketika sedang mencari makan, bertemu dengan kura-kura ini; lama kelamaan mereka menjadi teman akrab. Suatu hari dua angsa itu berkata kepadanya: “Teman Kura-kura, kami memiliki sebuah rumah yang indah di Himalaya, di atas satu dataran tinggi di Gunung Cittakūta, di dalam sebuah gua emas! Maukah Anda pergi bersama kami?”
“Bagaimana caranya,” katanya, “saya bisa ke sana?” “Oh, kami akan membawamu jika kamu dapat menutup mulutmu, dan tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada siapa pun.”
“Ya, saya dapat melakukan itu,” katanya; “bawalah saya!”

Jadi mereka menyuruh kura-kura menggigit sebuah batang kayu dengan giginya, dan mereka sendiri memegang kedua ujung batang tersebut, mereka terbang ke udara.
Anak-anak desa melihat ini, dan berseru—“Di sana ada dua angsa membawa seekor kura-kura dengan sebatang kayu!”
(Pada saat ini, kedua angsa yang terbang dengan cepat telah sampai di atas istana raja, di Benares).

Kura-kura ingin berteriak—“Ya, dan jika teman-temanku membawaku, apa hubungannya dengan kalian, orang-orang yang jahat?”—ia pun melepaskan gigitannya pada batang kayu itu dan jatuh ke halaman istana, terbelah dua! Betapa ricuhnya keadaan di sana! “Seekor kura-kura jatuh ke halaman istana dan terbelah dua!” teriak mereka. Raja, dengan Bodhisatta, dan semua anggota istananya, datang ke tempat itu, dan ketika melihat kura-kura tersebut, raja menanyakan Bodhisatta sebuah pertanyaan. “Guru yang Bijak, apa yang membuat makhluk ini jatuh?”

“Sekaranglah saatnya!” pikir Bodhisatta. “Untuk waktu yang lama, saya berharap untuk menasihati raja, dan saya telah menunggu-nunggu kesempatan. Tidak diragukan lagi, kenyataannya adalah begini; kura-kura dan kedua angsa menjadi teman; angsa-angsa tersebut pasti berniat untuk membawanya ke Himalaya, dan menyuruhnya memegang sebuah batang di antara giginya dan kemudian mengangkatnya terbang ke udara; kemudian kura-kura tersebut mendengar beberapa perkataan dan ingin untuk menjawabnya; karena tidak sanggup untuk menahan mulutnya, dia pun melepaskan dirinya; [177] dan pasti dia jatuh dari udara dan menemui ajalnya.” Demikianlah yang dipikir Bodhisatta, dan dia menasihati raja demikian: “Oh Paduka, mereka yang terlalu banyak mulut, yang tidak membatasi perkataan mereka, akan menemui kemalangan seperti ini;” dan dia pun mengucapkan bait-bait berikut:—

Kura-kura ingin berbicara dengan keras,
walaupun di antara gigi-giginya,
sebatang kayu digigitnya, tetapi,
walaupun begitu, dia tetap berbicara—
dan akhirnya jatuh ke bawah.
Dan sekarang ingatlah baik-baik,
Anda harus berbicara dengan bijaksana,
harus berbicara tepat pada waktunya.
Jatuh menemui ajalnya sang kura-kura:
Dia berbicara terlalu banyak; itulah sebabnya.

“Dia sedang mengataiku!” pikir raja di dalam hatinya, dan menanyakan Bodhisatta apakah benar demikian.
“Apakah itu Anda, Paduka, ataupun orang lain,” jawab Bodhisatta, “siapa pun yang berbicara di luar batas, akan menemui kesengsaraan seperti ini.” Demikianlah dia membuat hal itu terwujudkan.
Dan sejak itu, raja mengendalikan diri dalam berbicara dan menjadi seorang yang berbicara sedikit.
____________________
[178] Uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada saat itu, Kokālika (Kokalika) adalah kura-kura, dua mahāthera yang terkenal adalah dua angsa liar, Ānanda adalah raja, dan Aku adalah penasihatnya yang bijaksana.”

Berikut ini Video Animasi "Kura - Kura Yang Bawel" :


____________________
Catatan kaki :
128 Fausbøll, Five Jātakas, hal. 41; Dhammapada, hal. 418; bandingkan Benfey’s Pantschatantra, i. hal. 239; Babrius, ed. Lewis, i. 122; Phaedrus, ed. Orelli, 55, 128; Rhys Davids, Buddhist Birth Stories, viii.; Jacobs, Indian Fairy Tales, hal. 100 and 245.
129 Takkāriya-Jātaka, No. 481.

Kisah Y.A. Sariputta - Bagian 2


Sebelumnya...
Pada masa itu, tinggallah di Rajagrha seorang pertapa bernama Sanjaya dari sekte Paribbajaka, yang mempunyai banyak murid. Setelah memutuskan utnu mendapatkan pentabhisan di bawahnya, Upatissa dan Kolita pergi ke sana, masing-masing dengan 500 brahmana pengikut mereka, dan semua menerima pentabhisan. Sejak itu, reputasi dan ketenaran Sanjaya meningkat pesat...
-----
Dalam waktu singkat, kedua sahabat itu telah mempelajari semua doktrin Sanjaya, dan mereka bertanya, "Guru, apakah doktrinmu begini, atau masihkah ada yang lain?"

Sanjaya menjawab, "Hanya ini saja, kalian sudah mengetahui semuanya."

Setelah mendengarnya, mereka berfikir, "Kalau demikian, percuma saja berguru terus kepadanya. Tetapi India begitu luas, apabila kita berkelana dari desa ke desa, kota dan daerah, kita akan menemukan guru yang dapat menunjukkan jalan pembebasan bagi kita."

Setelah berkelana ke seluruh daerah India, mereka kembali, dan tiba di tempat perjanjian mereka, kemudian mereka sepakat bahwa siapa yang terlebih dahulu menemukan keadaan tanpa kematian, harus memberitahu yang lain.

Beberapa waktu kemudian, Yang Diberkahi datang ke Rajagrha. Di antara 61 arahat yang dikirim sang Guru untuk menyebarkan nilai - nilai Tiga Mustika ke seluruh dunia, tersebutlah Sesepuh Assaji, yang merupakan bagian dari kelompok lima pertapa, merupakan pendamping terdahulu sang Buddha sebelum mencapai penerangan, dan sesudah itu murid pertamaNya.

Sesepuh Assaji telah kembali ke Rajagrha sesudah lama berkelana, dan ketika pada suatu pagi, pada saat Beliau pergi berpindapata di kota, beliau terlihat oleh Upatissa, yang sedang dalam perjalanannya ke biara pertapa Paribbajaka. Terpesona oleh sikap dan penampilan Assaji yang tenang, Upatissa berpikir, "Tidak pernah saya berjumpa dengan pertapa seperti ini sebelumnya. Beliau pasti salah satu arahat, atau sedang dalam perkembangan menuju ke arahatan. Apakah perlu saya menghampirinya dan bertanya, "Kepada siapakah Anda berguru? Siapakah gurumu dan ajaran siapakah yang Anda jalankan?"

Kemudian, ketika sang sesepuh telah selesai mengumpulkan makanan dan Upatissa meyusulnya ke tempat lain untuk duduk dan makan, ia menyiapkan tempat duduknya sendiri yang selalu dibawanya dan menawarkannya kepada sang Sesepuh. Sesepuh Assaji memakan makanannya, Upatissa lalu melayaninya dengan memberikan minum dari tempat airnya sendiri; dan dengan jalan tersebut telahh menunjukkan kewajiban murid kepada gurunya.

Setelah mereka bertukar salam, Upatissa berkata, "Begitu tenang roman mukamu, Yang Mulia. Begitu murni dan terang kulitmu. Di bawah siapakah Anda berguru menjadi pertapa? Siapakah gurumu dan doktrin siapakah yang Anda jalani?"

Assaji menjawab, "Dia adalah Pertapa Agung, saudara, keturunan Sakya. Di bawah Yang Terberkahilah saya berguru. Beliau adalah guruku dan Dhamma-Nyalah yang saya jalankan."

"Apa yang diajarkan oleg guru Yang Mulia, apa yang Beliau nyatakan?" Ditanya seperti itu, Sesepuh Assaji berfikir, "Pertapa ini diluar ajaran Buddha. Saya harus menunjukkan kepadanya betapa besarnya ajaran ini." Jadi ia berkata, "Saya masih baru, temanku. Belum begitu lama sejak saya meninggalkan rumah, dan baru-baru ini saya menerima ajaran dan disiplin ini. Saya tidak dapat menjelaskan Dhamma secara terperinci kepadamu."

Sang pengelana menjawab, "Saya bernama Upatissa, katakanlah kepada saya berdasarkan kemampuan Anda, walaupun sedikit, itu akan menjadi tugas saya untuk memahami artinya dengan seratus atau seribu cara pun."

Dan ia menambahkan;

"Sedikit atau banyak yang dapat engkau katakan artinya saja,
nyatakanlah kepadaku!
Untuk tahu artinya adalah keinginanku sati-satunya;
tidak berguna bagiku kata-kata yang banyak."

Sebagai jawabanya, Sesepuh Assaji menyatakan bait ini:

"Segala hal mempunyai sebab,
Tathagata menjelaskan sebab tersebut;
dan bagaimana mereka hilang,
itu  pula yang dikatakanNya,
inilah doktrin dari Pertapa Agung."

Setelah mendengar dua baris pertama, Upatissa mencapai tingkat Calon Pemenang Arus (Sotapatti-magga) dan pada dua baris yang lain Ia telah menjadi Pemenang Arus (Sotapatti-phala).

Sebelum mendapatkan pencapaian yang lebih tinggi, Ia berpikir; "Di sinilah arti pembebasan akan ditemukan!" Ia berkata kepada sang sesepuh: "Janganlah memperluas penjelasan tentang Damma ini, Yang Mulia. Ini sudah cukup. tetapi di manakah guru kita tinggal?"

"Di Vihara Hutan Bambu, pengelana," jawab sesepuh Assaji.

Bersambung.....

Baca bagian 1.

Kisah Y.A. Sariputta - Bagian 1


Sebelum sang Buddha lahir di dunia, tersebutlah seorang wanita brahmana bernama Sari yang tinggal di desa Upatissa dan seorang wanita bernama Moggali yang tinggal di desa Kolita. Keduanya sedang mengandung. Kedua keluarga bersahabat dekat selama tujuh generasi berturut-turut. Sejak pertama kehamilan mereka, calon-calon ibu itu dijaga dengan baik oleh masing-masing keluarga, dan setelah 10 bulan, kedua wanita tersebut melahirkan bayi laki-laki pada hari yang sama. pada hari pemberian nama, bayi laki-laki Sari diberinama Upatissa, dan putra Moggali diberi nama Kolita.

Setelah cukup dewasa, kedua anak diberi pendidikan dan menguasai ilmu dengan baik. Masing-masing mempunyai pengikut 500 pemuda brahmana.

Pada suatu waktu di Rajagaha sedang berlangsungg acara tahunan. Tempat dipersiapkan untuk kedua pemuda tersebut dan mereka duduk bersama menonton perayaan tersebut. Mereka sangat menikmati acara perayaan tersebut, dan bahkan membayar untuk pertunjukan extra, Mereka kembali menyaksikan perayaan pada hari kedua; tetapi pada hari ketiga, pengertian mereka bangkit dan tidak lagi dapat mereka menikmati acara perayaan seperti hari pertama.

Masing-masing mempunyai pemikiran yang sama; "Apa yang saya cari disini?" Sebelum orang-orang inimencapai umur 100 tahun, mereka semua akan mati. Apa yang seharusnya kita lakukan adalah mencari tahu tentang pembebasan."

Degan pikiran demikian, mereka duduk di tempat mereka di festival. Kolita berkata kepada Upatissa, "Bagaimana, sahabatku Upatissa? Engkau tidak kelihatan bahagia dan senang seperti hari-hari yang lalu. Engkau kelihatan tidak puas. Apa yang sedang engkau pikirkan?"

"Sahabatku, Kolita, menyaksikan semua hal disini sama sekali tidak ada untungnya. Sama sekali tidak berguna! Saya seharusnya mencari tahy tentang pembebasan. Itulah yang saya pikirkan, Kolita. Tetapi engkau, Kolita, kelihatannya tidak puas juga."

Kolita menjawab, "Sama seperti yang engkau rasakan!" Mendengar bahwa sahabatnya juga mempunyai kehendak hati yang sama, Upatissa berkata, "pikiran kita sama adanya. Tetapi bagi mereka yang mencari pembebasan, hanya ada satu jalan yang dapat di tempuh; meninggalkan rumah dan hidup sebagai pertapa. Tetapi kepada siapakah kita akan berguru?"

Pada masa itu, tinggallah di Rajagrha seorang pertapa bernama Sanjaya dari sekte Paribbajaka, yang mempunyai banyak murid. Setelah memutuskan utnu mendapatkan pentabhisan di bawahnya, Upatissa dan Kolita pergi ke sana, masing-masing dengan 500 brahmana pengikut mereka, dan semua menerima pentabhisan. Sejak itu, reputasi dan ketenaran Sanjaya meningkat pesat.

Bersambung ke bagian 2...



Menghargai Kehidupan - Titi Tata

Setiap kehidupan ini berharga, bahkan untuk mahkluk kecilpun. Kehidupan ini adalah sama bagi setiap mahkluk.
Semuah mahkluk ingin hidup tenteram, damai dan bahagia.
Demikian juga dengan diri kita tentunya. Manusia merupakan mahkluk yang paling pinter, namun manusia sering lupa untuk melindungi mahkluk lain, bahkan justru sering membuat mahkluk lain menderita. 
Kisah dalam video ini cukup menginspirasai, sebuah kisah yang dikemas secara sederhana dalam bentuk film animasi tentang bagaimana kita harus bisa menghargai kehidupan.
Film ini bisa di manfaatkan sebagai Video Pembelajaran khususnya untk kelas kecil.
Semoga bermanfaat. 







Video Profile Kang Widi

Menerima Apresiasi Guru PAB Inovatif Tahun 2025

Menerima Apresiasi Guru PAB Inovatif Tahun 2025
Bersama Menteri Agama RI, Bapak Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.

Subscribe Media Belajar Temanggung

Subscribe Channel SBC Kendal


Sosok Inspiratif Cerdas Berkarakter Tahun 2022

Sosok Inspiratif Cerdas Berkarakter Tahun 2022

Bersama Bupati Kendal dan Kepala Disdik Kab. Kendal

Bersama Bupati Kendal dan Kepala Disdik Kab. Kendal
Menerima Apresiasi atas Prestasi sebagai TOP 6 ASN Inspiratif tahun 2021

52 Terbaik PNS Inspiratif 2018

Menerima Anugerah Bupati Kendal Award 2018

Menerima Anugerah Bupati Kendal Award 2018
Bersama Bupati Kendal Ibu dr. Mirna Annisa, M.Si. Menerima Anugerah Bupati Kendal Award 2018 Kategori Pegiat Pendidikan
Instagram

Translate

Popular Post

Cara merekam dan mengedit vocal pada Adobe Audition CS-6 Bagian 1

Gambar 1: Halaman Awal Aplikasi Adobe Audition CS-6 S alam Kreatif dan Inovatif, Para pembaca sekalian yang berbahagia, pada k...

Popular Posts