- Mari Terus Belajar, Berinovasi, Berkreasi dan Berkarya -

Ikrar Bodhisatwa


"Di hadapan setiap Buddha di setiap alam Buddha, aku hadir dalam jumlah tak terhitung sebanyak butiran debu, menyampaikan penghormatan kepada semua Buddha sebanyak butiran debu jumlahnya. Sebagaimana luasnya angkasa tanpa batas, sebagaimana hamparan makhluk hidup, karma-karma makhluk hidup dan penderitaan makhluk hidup adalah tanpa akhir; demikian pula penghormatanku kepada semua Buddha adalah tanpa batas dan tanpa akhir. Tekadku akan terbangun dari waktu ke waktu, aku tidak pernah akan lelah dan tetap melakukannya dengan tubuh, ucapan, dan pikiranku di mana pun, kapan pun dan sampai pada masa apa pun."

Versi Mahayana:
Mahayanayoga vajrattasagara manjusri sahasrabhuja sahasrapatra mahasasanaraja sutra

10 vows of Manjusri

Buddha memberitahukan kepada para hadirin, Para Mahabodhisattva Mahasattva :

“Bila ada Bodhisattva yang baru membangkitkan Bodhicitta serta keempat golongan, putera dan puteri yang berbudi, dan yang lainnya. Barang siapa membangkitkan Bodhicitta, Manjusri Bodhisattva berikrar : Saya ada sepuluh macam ikrar Para Buddha yang mendalam tanpa batas, bila para Bodhisattva dan para insan memasuki ikrar –Ku, maka mereka merupakan anak Baghavan Para Buddha, dan sekaligus merupakan ayah – bunda Ku. Mengapa demikian ? Saya mempunyai ikrar agung, dengan sepuluh ikrar agung Ku, terlebih dahulu demi orang tua, kakak dan adik, istri dan kerabat, membuat mereka menjadi sejahtera, buah berkah menjadi sempurna, kakak dihormati oleh adiknya, dengan hati belas kasih menghindari pembunuhan, mempelajari Mahayana, melafal sutra suci, meningkatkan kualitas khalayak, bertekad mencapai Boddhi. Saya juga menjadi Guru, Sangha , siswa, bhiksu, Acarya, teman belajar, mitra, supaya mereka menerima ajaran Dharma ku, mempelajari tata krama, mencontoh kesantunan Ku, supaya mereka terinspirasi membangkitkan ikrar agung demi Mahayana, menekuni Boddhi, sampai merealisasikan Kebuddhaan. Maka dengan demikian entah Aku yang memulai atau pihak lain yang memulai (mengikat jodoh), (seperti) orang – orang pemerintahan, melayani masyarakat awam, satu-persatu menjadi terhormat, berbakti pada Negara, sehingga menjalin jodoh dengan semua masyarakat dan bisa menuntun menuju Boddhi, bersarana pada Triratna, membangkitkan Bodhicitta.

Kenapa dinamakan sepuluh macam ikrar agung yang mendalam :

Ikrar agung pertama :
Bila ada para insan yang terlahir di triloka,bila Aku yang memulai atau pihak lain yang memulai, tergantung dengan nidana,ataupun bila Pimpinan Catursunyapancasubha, pimpinan Cattvari Dhyanani Brahmaraja, pimpinan Sadkama, Indra pimpinan para Dewa, Caturdewa pimpinan caturcakra, pimpinan para dewa dan naga, pimpinan kedelapan kelompok makhluk, pimpinan Pelindung Buddha Dharma, pimpinan sangharama, pimpinan Caturmahadharaloka, pimpinan Vajradrdha, pimpinan Dewa Kebajikan Pelindung Negara, pimpinan negeri besar dan kecil, pimpinan empat Raja Kecil, pimpinan para prajurit, pimpinan ibu kota,makhluk amfibi, maupun yang terlahir dari rahim – telur - kelembaban dan spontan, Sembilan jenis cacing, semua yang bernyawa, yang lahir di tiga masa, semoga Buddha menjadi saksinya, yang belum pernah mendengar nama Ku, aku bertekad membuat mereka mendengarnya, Yang mendengarkan nama Ku, atau yang berada dalam Dharma Ku, supaya para insan membangkitkan Bodhicitta dan melimpahkan jasa kepada Mahyana , menekuni jalan Anuttara. Jika ada insan yang menggunakan obat Dharma atau ilmu kedokteran duniawi untuk menyembuhkan yang sakit, (serta) penghitungan penanggalan, kesenian dan kerajinan, kesusastraan, penyanyi lagu-lagu pujian, diskusi dan presentasi yang bermanfaat, membimbing umat manusia, atau berbagai pekerjaan (berjasa)lainnya semacam itu, (dan dengan pelayanannya) membimbing orang awam untuk membangkitkan Bodhicitta serta pandangan benar, (berarti) semuanya (telah) berjodoh dengan Ku, memperoleh jalan Kebuddhaan.

Ikrar agung kedua :
Bila ada insan, yang memfitnah Ku, membenci Ku, melukai bahkan membunuh Ku, entah kepada Ku, ataupun dia atau yang lainnya, senantiasa membenci dan tidak bisa memperoleh kebebasan (dari kebenciannya), (aku bertekad) supaya mereka berjodoh dengan Ku, dan membuat mereka membangkitkan Boddhicitta.

Ikrar agung ketiga :
Bila para insan, menyukai tubuh jasmaniKu, saat melihat Ku timbul keinginan memiliki, berusaha mendapatkan Ku; atau melakukan terhadap tubuh Ku dan tubuh yang lain dengan penuh dusta , penuh pandangan salah, ataupun melakukan sesuatu yang suci maupun tidak suci, melakukan segala kejahatan dan semua yang tidak baik ; (aku bertekad) supaya mereka berjodoh dengan Ku, dan membuat mereka membangkitkan Boddhicitta.

Ikrar agung keempat :
Bila ada insan, merendahkanKu, mencurigai Ku, muak kepada Ku, berdusta atas Aku, memfitnah Triratna, dengki pada Para Suci, mendustai semua, seringkali bertindak tidak baik, (aku bertekad) supaya mereka berjodoh dengan Ku, dan membuat mereka membangkitkan Boddhicitta.

Ikrar Agung kelima :
Bila ada insan, tidak menghargai Ku, merendahkan Ku, malu dan menyesal kepada Ku, yang menghormati Ku, yang tidak menghormati Ku, menghalangi Ku atau tidak menghalangi Ku, memanfaatkan Ku atau tidak memanfaatkan Ku, memiliki Ku atau tidak memiliki Ku, menginginkan Ku atau tidak menginginkan Ku, menghendaki Ku atau tidak, mengikuti Ku atau tidak, melihat Ku atau tidak, (aku bertekad) supaya mereka berjodoh dengan Ku, dan membuat mereka membangkitkan Boddhicitta.

Ikrar Agung keenam :
Bila ada insan, sering melakukan pembunuhan, mencelakai atau menyembelih, menjagal babi atau menjaring ikan, saat dendam timbul saling membunuh, tiada putusnya, dari kelahiran demi kelahiran saling membalas, pembunuhan semakin merajalela, sama sekali tidak timbul penyesalan, menjual tubuh dan mengambil harta tidak dengan semestinya untuk menghidupi diri sendiri, yang memiliki hati yang demikian, selamanya kehilangan tubuh manusia dan tidak melepaskan pembalas dendaman. Yang demikian, (aku bertekad) supaya mereka berjodoh dengan Ku, dan membuat mereka membangkitkan Boddhicitta. Bila ada orang lain yang mengambil harta benda Ku atau Aku yang memberinya ; atau memberikan derma dana pada Ku, atau saya yang berderma, semua yang bisa memperolehnya maupun yang tak memperolehnya, (aku bertekad) supaya mereka berjodoh dengan Ku, dan membuat mereka membangkitkan Boddhicitta.

Ikrar Agung ketujuh :
Bila ada insan, yang member pujana pada Ku, atau Aku yang member pujana pada nya. Atau Aku ataupun dia yang mendirikan tempat peristirahatan Sangha, arama, stupa Buddha, tempat meditasi serta tempat penyepian ; Atau Aku maupun orang lain membuat semua macam pahala, dan membuat pratima Buddha Bodhisattva, ataupun mendorong orang lain untuk berdana, mengumpulkan berkah, kemudian dilimpahkan kepada Dharmadhatu, serta Boddhi para Buddha, supaya parai nsan bersama menikmati berkah ini
Jika ada orang , teman dan pasangan, guru dan siswanya, orang yang melatih diri dengan keras, dengan posisi tubuh tertentu atau berpuasa ; yang menjalankan sila atau melanggarnya ; yang berkarya maupun tidak ; biksu atau Acarya pengajar, yang mendengar ajaran Ku, atau Aku menerima ajarannya, yang bersama dalam berkarya, semua berjodoh dengan Ku, supaya mereka membangkitkan Bodhicitta.

Ikrar agung kedelapan :
Bila ada insan yang selalu berbuat kejahatan, (sehingga) terjerumus dalam neraka tanpa ada kesempatan meloloskan diri, sampai berkalpa-kalpa, terus didera berbagai derita ; keluar dari neraka terlahir di lima alam, terlebih dahulu menjadi hewan, menggunakan nyawanya untuk membayar karma kehidupan lampau, menjadi hewan hewan rendah seperti anjing, babi , sapi, kembing, gajah dan kuda, atau menjadi buruh tanpa istirahat, untuk membayar karma,hutang nyawa sejak banyak kehidupan , mengembalikan apa yang dicuri darinya. Aku akan senantiasa terlahir di kehidupan yang sama dengan lima alam itu, untuk memberikan pengajaran, atau menjadi orang miskin papa, buta, bisu dan tuli, orang rendahan, diantara para insan, menjadi sama golongan dan jodoh yang sama, sama pekerjaan dan sama karya, (dan) Aku akan membimbingnya memasuki jalan Kebuddhaan ; Berjodoh dengan Kusupaya mereka membangkitkan Bodhicitta.

Ikrar Agung kesembilan :
Bila ada insan, penuh sifat sombong, sehingga menodai Dharma. Guru dan siswa tanpa rasa malu mempergunakan harta milik Sangha, Buddha, Bodhisattva, maupun membunuh dan merampok, berbuat kejahatan dan berdusta, berkata – kata yang tidak berguna dan bermulut jahat, berlidah dua dan suka berselisih, serakah dan penuh kebencian, tidak membina diri dalam kebajikan, mencuri harta orang lain, gemar merendahkan orang lain, tidak mengenal baik dan buruk, selalu melakukan sepuluh perbuatan jahat dan semua dosa lainnya, setelah meninggal dunia terjerumus dalam avici, memasuki berbagai jenis neraka. Setelah keluar dari neraka, terlahir kembali di keenam alam samsara, memasuki samudera kelahiran dan kematian, serta berbagai alam rendah. Semoga berjodoh dengan Ku, melakukan karya dan berjalan dijalur yang sama, berubah sesuai nidana, pasti akan menolongnya, supaya mereka terbebaskan. Semoga berjodoh dengan Ku dan membangkitkan Bodhicitta.

Ikrar Agung kesepuluh :
Bila ada insan, yang berjodoh dengan Ku maupun dengan metode Ku, atau yang tidak berjodoh, (biarlah) mereka memiliki kesamaan Ikrar Agung dengan Ku, memperoleh tubuh (seperti) Ku, tiada bedanya dengan Ku. Menjalankan Catur Brahma Vihara, hati seluas angkasa ; Menyelamatkan insan luas tanpa kenal lelah, bertekad mencapai Boddhi, menapaki jalan Anuttara Samyaksamboddhi. Maharya Manjusri , dengan ikrar yang didasari oleh sifat keagungan, tidak memasuki triloka, juga tidak keluar dari triloka ; Hati bagai angkasa, senantiasa berada dalam samudera sifat kesucian Tathagata, Tathagatagarbha. Menetap di Dharmadhatu, berada dalam kesadaran tiap insan.

Manjusri mengatakan :
“Aku memiliki ikrar, dengan kekuatan keagungan memberikan adhistana pada para insan, supaya noda dosanya sirna, memasuki Boddhi, buah keluhuran Para Buddha. Ini dinamakan Sepuluh Macam Ikrar Agung Bodhisattva.”Setelah Manjusri membangkitkan ikrar agung, saya (nama) juga membangkitkan ikrar yang demikian, terjadi enam macam goncangan di Trisahasra Mahasahasra Lokadhatu , hujan bunga memenuhi angkasa. Pada saat itu semua hadirin dalam pasamuan melihat bunga tersebut kemudian memuji :Mahabodhisattva Manjusri, kekuatan luhur yang leluasa, tak terperikan, tak terungkapkan !”

10 Paramita

Dalam Agama Buddha, terdapat 6 sifat luhur atau kesempurnaan (Sad Paramita) sebagai jalan untuk mencapai tingkat Bodhisattva, yaitu:
1.    Dana Paramita, yaitu melatih kemurahan hati.
Menurut cara hidup umat Buddha, Dana itu terbagi atas dua jenis yaitu dan yang dapat dilakukan oleh orang-orang biasa yang belum mencapai kesucian, yang terdiri dari Amisedana dan Dhammadana. Dan dana yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah mencapai kesucian, yaitu Atidana dan Mahatidana.
Dana yang dapat dilakukan orang-orang biasa, baik yang hidup berkeluarga (umat biasa dan Upasaka-Upasika) maupun yang hidup tidak berkeluarga (bhikkhu-Bhikkhuni) adalah :
1.  Amisedana, yaitu dana dalam bentuk materi (benda) yang kita berikan kepada orang-orang yang membutuhkan, misalnya uang, keperluan hidup dan makanan.
2. Dhammadana, yaitu dana dalam bentuk bathin, memberikan khotbah Dhamma, memberikan nasehat-nasehat kepada seseorang sesuai dengan Ajaran Sang Buddha. Menurut kitab suci Prajna Paramita dikatakan, bahwa pemberian Dhamma melebihi segala macam pemberian lainnya.

Dana yang dapat dilakukan oleh orang-orang suci, yakni Sotapanna, Sakadagami, Anagami, Arahat dan Bodhisattva adalah:
1.  Atidana, Dana yang dilakukan seseorang untuk kepentingan orang banyak dengan meninggalkan segala kesenangan dan harta bendanya. Misalnya dengan pengorbanan Pangeran Siddharta meninggalkan istananya sebagai calon raja, meninggalkan istri dan anaknya untuk kebahagiaan orang banyak.
2.  Manatidana, Pengurbanan jiwa-raga seseorang untuk kepentingan/kebahagiaan orang (makhluk) lain yang sedang menderita. Misalnya dalam cerita dongeng mengenai Bodhisattva Avalokitescara dan pada cerita Jataka.

2.     Sila -Paramita, yaitu melatih tidak mengutamakan diri sendiri.
Bila seseorang memberikan dana, maka sebaiknya ia juga melatih Sila-Paramita dari cinta kasih tanpa membeda-bedakan antara pribadi sendiri dan pribadi orang lain. Ia seharusnya juga mendermakan kemurahan hati, welasasih yang tidak mementingkan diri sendiri dan rasa simpati terhadap sesama hidup.

3.    Kshanti (Kanthi)-Paramita, yaitu melatih kesabaran dan rendah hati.
Seseorang yang mencapai kesucian tidak akan pernah mengatakan bahwa ia telah mencapai kesucian kepada orang lain. Mereka tidak mengharapkan pujian dalam berbuat baik, mereka tidak merasa bangga bila dipuji dan mereka juga tidak kecewa seandainya dicaci.

4.    Viriya-Paramita, yaitu Melatih keuletan dan pengabdian.
Sesorang yang telah menyelidiki isi kitab suci agama Buddha dan kemudian dengan penuh semangat dan kemauan menerangkannya kepada orang lain dan mempersembahkan pengertiannya kepada orang banyak.

5.    Dhyana-Paramita, yaitu Melatih ketenangan pikiran.
Setiap siswa memperkembangkan pikirannya, memusatkan pikiran (Dhyana), bahwa ia dan makhluk lainnya adalah sama. Bila ia dapat mencapai nirvana, ia juga akan berusaha membebaskan makhluk hidup lainnya. Jikaau maksud dan janji itu dilaksanakan dengan jujur, maka semua makhluk hidup telah turut dibebaskan.

6.    Prajna-Paramita, yaitu Melatih kebijaksanaan.
Kata-kata tidak dapat mengutarakan Kesunyataan, apa yang diutarakan dengna kata-kata bukanlah Kesunyataan. Para Buddha dan Bodhisattva bukan memperoleh Penerangan melalui ajaran-ajaran yang terbatas, tetapi disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh. Disaat kelima Paramita terdahulu telah disempurnakan, maka Prajna-Paramita baru dapat dicapai, ia telah memperoleh Kebijaksanaan Sempurna, untuk menuju tingkat Kebuddhaan.

Selanjutnya Sad-Paramita mempunyai kelanjutan dan menjadi Dasa Paramita atau “10 Kesempurnaan”, yaitu,
1.   Dana-Paramita = kesempurnaan berdana.
2.   Sila-Paramita = kesempurnaan di dalam melatih diri (menjalankan peraturan).
3.   Kshanti-Paramita = kesempurnaan melatih kesabaran dan rendah diri.
4.   Virya-Paramita = kesempurnaan melatih keuletan atau pengabdian.
5.   Dhyana-Paramita = kesempurnaan melatih ketengan pikiran.
6.   Prajna-Paramita = kesempurnaan di dalam melatih kebijaksanaan.
7. Upaya-Paramita = kesempurnaan dalam kemahiran pada pemilihan atau penyesuaian dalam arti pengganti atau pertolongan.
8.   Pranidhana-Paramita = kesempurnaan melatih keteguhan atau cita-cita.
9.   Bala-Paramita = kesempurnaan melatih kekuataan (tenaga).
10.   Jhana-Paramita = kesempurnaan dalam pengetahuan.

Keempat Paramita setelah Sad Paramita merupakan Paramita susulan atau pelengkap.
Kesepuluh Paramita dalam Theravada, yang merupakan jalan untuk dilaksanakan pada Bodhisattva untuk mencapai tingkat Buddha adalah;
1.      Dana-Paramita = kesempurnaan beramal.
2.      Sila-Paramita = kesempurnaan melaksanakan sila.
3.   Nekkhamma-Paramita = kesempurnaan melatih penolakan, yaitu penolakan nafsu indera.
4.      Panna-Paramita = kesempurnaan melatih kebijaksanaan.
5.      Viriya-Paramita = kesempurnaan melatih usaha (semangat).
6.      Khanti-Paramita = kesempurnaan melatih kesabaran.
7.  Sacca-Paramita = kesempurnaan melatih kebenaran (kata-kata, perbuatan, dan pikiran).
8. Adhitthana-Paramita = kesempurnaan melatih kehendak dengan mantap (memutuskan sesuatu dan selesai berbuat sesuatu pada waktunya).
9.      Metta-Paramita = kesempurnaan melatih cinta-kasih.
10.   Upekkha-Paramita  = kesempurnaan melatih keseimbangan batin.


Dasar-dasar Pelestarian Dhamma dan Vinaya


Kanon Pali atau Tipitaka berarti tiga keranjang penyimpanan Kanon (Kitab Suci). Selama beberapa abad sabda-sabda Sang Buddha disampaikan dengan turun temurun dengan lisan saja, yaitu dengan jalan menghafalkannya di luar kepala. Ajaran Sang Buddha dibukukan beberapa ratus tahun setelah Sang Buddha mencapai Parinibbana.

Beberapa minggu setelah Sang Buddha wafat (483 SM) seorang Bhikkhu tua yang tidak disiplin bernama Subhaddha berkata :

"Janganlah bersedih kawan-kawan, janganlah meratap, sekarang kita terbebas dari Pertapa Agung yang tidak akan lagi memberitahu kita apa yang sesuai untuk dilakukan dan apa yang tidak, yang membuat hidup kita menderita, tetapi sekarang kita dapat berbuat apa pun yang kita senangi dan tidak berbuat apa yang tidak kita senangi" (Vinaya Pitaka II,284).

Maha Kassapa Thera setelah mendengar kata-kata itu memutuskan untuk mengadakan Pesamuan Agung (Konsili) di Rajagaha.

Dengan bantuan Raja Ajatasattu dari Magadha, 500 orang Arahat berkumpul di Gua Sattapanni dekat Rajagaha untuk mengumpulkan ajaran Sang Buddha yang telah dibabarkan selama ini dan menyusunnya secara sistematis. Yang Ariya Ananda, siswa terdekat Sang Buddha, mendapat kehormatan untuk mengulang kembali khotbah-khotbah Sang Buddha dan Yang Ariya Upali mengulang Vinaya (peraturan-peraturan). Dalam Pesamuan Agung Pertama inilah dikumpulkan seluruh ajaran yang kini dikenal sebagai Kitab Suci Tipitaka (Pali). Mereka yang mengikuti ajaran Sang Buddha seperti tersebut dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali) disebut Pemeliharaan Kemurnian Ajaran sebagaimana sabda Sang Buddha yang terakhir: "Jadikanlah Dhamma dan Vinaya sebagai pelita dan pelindung bagi dirimu".

Pada mulanya Tipitaka (Pali) ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Satu abad kemudian terdapat sekelompok Bhikkhu yang berniat hendak mengubah Vinaya. Menghadapi usaha ini, para Bhikkhu yang ingin
mempertahankan Dhamma - Vinaya sebagaimana diwariskan oleh Sang Buddha Gotama menyelenggarakan Pesamuan Agung Kedua dengan bantuan Raja Kalasoka di Vesali, di mana isi Kitab Suci Tipitaka (Pali) diucapkan ulang oleh 700 orang Arahat. Kelompok Bhikkhu yang memegang teguh kemurnian Dhamma - Vinaya ini menamakan diri Sthaviravada, yang kelak disebut Theravãda. Sedangkan kelompok Bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya menamakan diri Mahasanghika, yang kelak berkembang menjadi mazhab Mahayana. Jadi, seabad setelah Sang Buddha Gotama wafat, Agama Buddha terbagi menjadi 2 mazhab besar, yaitu Theravãda dan Mahayana.

Pesamuan Agung Ketiga diadakan di Pattaliputta (Patna) pada abad ketiga sesudah Sang Buddha wafat (249 SM) dengan pemerintahan di bawah Kaisar Asoka Wardhana. Kaisar ini memeluk Agama Buddha dan dengan pengaruhnya banyak membantu penyebarkan Dhamma ke suluruh wilayah kerajaan. Pada masa itu, ribuan gadungan (penyelundup ajaran gelap) masuk ke dalam Sangha dangan maksud meyebarkan ajaran-ajaran mereka sendiri untuk meyesatkan umat. Untuk mengakhiri keadaan ini, Kaisar menyelenggarakan Pesamuan Agung dan membersihkan tubuh Sangha dari penyelundup-penyelundup serta merencanakan pengiriman para Duta Dhamma ke negeri-negeri lain, termasuk puteranya sendiri yang sudah mencapai tataran Arahat. Dalam Pesamuan Agung Ketiga ini 100 orang Arahat mengulang kembali pembacaan Kitab Suci Tipitaka (Pali) selama sembilan bulan. Dari titik tolak Pesamuaan inilah Agama Buddha dapat tersebar ke suluruh penjuru dunia dan terhindar lenyap dari bumi asalnya.

Pesamuan Agung keempat diadakan di Aluvihara (Srilanka) di bawah lindungan Raja Vattagamani Abhaya pada permulaan abad keenam sesudah Sang Buddha wafat (83 SM). Pada kesempatan itu Kitab Suci Tipitaka (Pali) dituliskan untuk pertama kalinya. Tujuan penulisan ini adalah agar semua orang mengetahui kemurnian Dhamma Vinaya. Selanjutnya Pesamuan Agung Kelima diadakan di Mandalay (Burma) pada permulaan abad 25 sesudah Sang Buddha wafat (1871) dengan bantuan Raja Mindon. Kejadian penting pada waktu itu adalah Kitab Suci Titpitaka (Pali) diprasastikan pada 727 buah lempengan marmer (batu pualam) dan diletakkan di bukit Mandalay. Persamuan Agung keenam diadakan di Rangoon pada hari Visakha Puja tahun Buddhis 2498 dan berakhir pada tahun Buddhis 2500 (tahun Masehi 1956). Sejak saat itu penterjemahan Kitab Suci Tipitaka (Pali) dilakukan ke dalam beberapa bahasa Barat.

Sebagai tambahan pengetahuan dapat dikemukakan bahwa pada abad pertama sesudah Masehi, Raja Kaniska dari Afganistan mengadakan Pesamuan Agung yang tidak dihadiri oleh kelompok Theravãda. Bertitik tolak pada Pesamuaan ini, Agama Buddha mazhab Mahayana berkembang di India dan kemudian meyebar ke negeri Tibet dan Tiongkok. Pada Pasamuan ini disepakati adanya kitab-kitab suci Buddhis dalam Bahasa Sansekerta dengan banyak tambahan sutra-sutra baru yang tidak terdapat dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali).

Sampai abad ketiga setelah Sang Buddha wafat mazhab Sthaviravada terpecah menjadi 18 sub-mazhab, antara lain: Sarvastivada, Kasyapiya, Mahisasaka, Theravãda dan sebagainya. Pada dewasa ini 17 sub mazhab Sthaviravada itu telah lenyap. Yang masih berkembang sampai sekarang hanyalah mazhab Theravãda (ajaran para sesepuh). Dengan demikian nama Sthaviravada sudah tidak ada lagi.


Materi terkait:
  1. Pengertian Tipitaka;
  2. Ikhtisar Tipitaka;

Keyakinan Dalam Agama Buddha



Umat Buddha di seluruh dunia menyatakan ketaatan dan kesetiaan mereka kepada Buddha, Dhamma dan Sangha dengan kata-kata yang sederhana, namun menyentuh hati, yang dikenal dengan nama TISARANA (Tiga Perlindungan). Kata-kata itu berbunyi sebagai berikut:
Buddham saranam gacchami (Saya datang berlindung kepada Buddha) 
Dhammam saranam gacchami (Saya datang berlindung kepada Dhamma) 
Sangham saranam gacchami (Saya datang berlindung kepada Sangha)
Kata-kata itu disabdakan oleh Sang Buddha Gotama sendiri, bukan oleh para siswanya atau oleh mahluk lain, di Taman Rusa Isipatana di dekat Benares, kepada 60 orang Arahat siswa langsung Beliau, ketika mereka akan berangkat menyebar Dhamma demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua mahluk.

Di dalam Vinaya Pitaka I, 22; dijelaskan bahwa pada waktu itu Sang Buddha berkata kepada para Bhikkhu itu, sebagai berikut: "Saya perkenankan kalian, O, para Bhikkhu, untuk mentahbiskan orang di tempat-tempat yang jauh. Inilah yang harus kalian lakukan. Rambut serta kumisnya harus dicukur, mereka harus memakai jubah Kasaya (jubah yang dicelup dalam air larutan kulit kayu tertentu), bersimpuh, merangkapkan kedua tangannya dalam sikap menghormat dan kemudian berlutut di depan kaki para bhikkhu. Selanjutnya kalian harus mengucapkan dan mereka harus mengulangi ucapan kalian yang berbunyi demikian: 'Saya datang berlindung kepada Buddha; Saya datang berlindung kepada Dhamma; Saya datang berlindung kepada Sangha, dan seterusnya."

Selanjutnya, Sang Buddha (Gotama) menetapkan bahwa rumusan tersebut bukan hanya berlaku bagi mereka yang akan ditahbiskan menjadi samanera atau Bhikkhu, tetapi juga berlaku bagi umat awam. Setiap orang yang memeluk agama Buddha, baik ia seorang umat awam ataupun seorang Bhikkhu, akan menyatakan keyakinannya dengan kata-kata rumusan Tisarana tersebut. Bagi umat Buddha, berlindung kepada Tiratana, merupakan ungkapan keyakinan; sama seperti halnya 'syahadat' bagi umat Islam dan 'credo' bagi umat Kristen. Tisarana (tiga perlindungan) adalah ungkapan keyakinan (saddha) bagi umat Buddha.

Adanya Tiratana sebagai perlindungan memang telah diungkapkan sendiri oleh sang Buddha, tetapi hakekat Tiratana sebagai perlindungan hanya dapat dibuktikan oleh tiap orang dengan merealisasinya di dalam batinnya masing-masing. Dalam batin seseorang, perlindungan itu akan timbul dan tumbuh berkembang bersamaan dengan proses perealisasiannya. Di dalam Dhammapada 25, hal tersebut dijelaskan pula sebagai berikut:
Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri, hendaklah orang bijaksana membuat pulau bagi dirinya sendiri yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.
Saddha (keyakinan) yang diungkapkan dengan kata 'berlindung' itu mempunyai 3 aspek, yaitu:
  1. Aspek Kemauan 
    Seorang umat Buddha berlindung kepada Tiratana dengan penuh kesadaran, bukan sekedar sebagai kepercayaan teoritis, adat kebiasaan, atau tradisi belaka. Tiratana akan benar-benar menjadi kenyataan bagi seseorang apabila ia sungguh-sungguh berusaha mencapainya. Karena adanya unsur kemauan inilah, maka saddha dalam agama Buddha merupakan suatu tindakan yang aktif dan sadar yang ditujukan untuk mencapai pembebasan, dan bukan suatu sikap yang pasif, menunggu berkah dari 'atas.'
  2. Aspek Pengertian 
    Ini mencakup pengertian akan perlunya perlindungan, yang memberi harapan dan menjadi tujuan bagi semua mahluk di dalam samsara ini, dan pengertian akan adanya hakekat dari perlindungan itu sendiri.
  3. Aspek Perasaan 
    Berlandaskan pada aspek pengertian, dan mengandung unsur keyakinan, pengabdian dan cinta kasih. Pengertian akan adanya perlindungan memberikan keyakinan yang kokoh di dalam batin sendiri, seerta menghasilkan ketenangan dan kekuatan. Pengertian akan perlunya perlindungan mendorong pengabdian yang mendalam; dan pengertian akan perlindungan memenuhi batin dengan cinta kasih yang universal, yang memberikan semangat, kehangatan dan kegembiraan.
Jadi, dapat dirumuskan bahwa 'berlindung' dalam Agama Buddha berarti suatu tindakan yang sadar yang bertujuan untuk mencapai pembebasan, yang berlandaskan pengertian dan didorong oleh keyakinan. Atau secara singkat dapat dikatakan 'suatu tindakan sadar daripada keyakinan, pengertian dan pengabdian'.

Ketiga aspek perlindungan ini, sesuai dengan aspek kemauan, aspek pengertian dan aspek perasaan dari batin manusia. Oleh karena itu, untuk mendapatkan perkembangan batin yang harmonis, maka ketiga aspek ini harus dipupuk bersama-sama. Selain itu, perlindungan kepada Tiratana juga mempunyai makna sebagai berikut:
  1. Buddha 
    Mengandung arti bahwa setiap orang mampu mencapai kebuddhaan, setiap orang dapat mencapai seperti apa yang telah dicapai oleh Sang Buddha. Sebagai perlindungan, Buddha bukanlah pribadi Buddha Gotama, melainkan para Buddha sebagai manifestasi dari Bodhi (kebuddhaan) yang mengatasi keduniawian (lokuttara).
  2. Dhamma 
    Sebagai perlindungan, bukan berarti kata-kata yang terkandung dalam kitab suci atau konsepsi ajaran yang terdapat dalam batin manusia biasa yang masih berada dalam keduniawian (lokiya), melainkan empat pasang tingkat kesucian serta Nibbana, yang direalisasi pada akhir 'Jalan.'
  3. Sangha 
    Sebagai perlindungan, berarti pesamuan para Bhikkhu suci, yang telah mencapai tingkat-tingkat kesucian (Ariya Puggala). Mereka ini menjadi teladan yang patut dicontoh. Tetapi makna sesungguhnya dari perlindungan ini ialah kemampuan yang ada pada setiap orang untuk mencapai tingkat-tingkat kesucian itu.
Dari semua uraian tadi, jadi jelaslah bahwa Buddha, Dhamma, dan Sangha dalam aspeknya sebagai perlindungan, mempunyai sifat mengatasi keduniawian (lokuttara). Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Buddha, Dhamma, dan Sangha, merupakan manifestasi dari yang Mutlak, Yang Esa, yang menjadi tujuan akhir semua mahluk. Buddha, Dhamma, dan Sangha sebagai Tiratana merupakan bentuk kesucian tertinggi yang dapat ditangkap oleh pikiran manusia biasa, dan oleh karena itu diajarkan sebagai perlindungan yang tertinggi oleh Sang Buddha. Buddha, Dhamma dan Sangha atau Tiratana adalah manifestasi, perwujudan, dari Keesaan dalam alam semesta ini, yang di-'puja' dan dianut oleh seluruh umat Buddha di dunia ini.


Materi Pelajaran Pendidikan Agama Buddha SMA/SMK Berdasarkan KTSP - Kelas X Semester 1 & 2

Ikhtisar Tri Pitaka


Tripitaka / Tipitaka merupakan kitab suci agama Buddha yang berisi berbagai sutta atau ajaran dari Sang Buddha untuk umat Buddha.Kitab suci ini ditemukan dalam bahasa Pali dan bahasa Sansekerta. Nama umum yang diberikan untuk kumpulan kitab suci agama Buddha adalah Tripitaka. "Tri " berarti "tiga " dan "pitaka " berarti "keranjang " atau bisa diartikan sebagai "kumpulan ". Jadi Tripitaka mempunyai arti " Tiga Keranjang " atau "Tiga Kumpulan", yang terdiri dari:
  • Vinaya Pitaka atau Kumpulan ajaran yang diperuntukkan bagi upasaka-upasika atau umat vihara.
  • Sutta/Sutra Pitaka atau Kumpulan Ceramah/Dialog.
  • Abhidhamma/Abhidharma Pitaka atau Kumpulan Doktrin Yang Lebih Tinggi, hasil susunan sistematis dan analisis skolastik dari bahan-bahan yang ditemukan dalam Sutta/Sutra Pitaka.

Rinciannya sebagai berikut:
Vinaya Pitaka:
1. Parajika
2. Pacittiya
3. Mahavagga
4. Culavagga
5. Parivara

Sutta Pitaka:

1. Digha Nikaya
2. Majjhima Nikaya
3. Samyutta Nikaya
4. Anguttara Nikaya
5. Khuddaka Nikaya

Abhidhamma Pitaka:

1. Dhammasangani
2. Vibhanga
3. Dhatukatha
4. Puggalapannatti
5. Kathavatthu
6. Yamaka
7. Patthana

  • Vinaya Pitaka
Vinaya Pitaka merupakan suatu kumpulan Tata Tertib dan Peraturan Cara Hidup yang ditetapkan untuk mengatur murid-murid Sang Buddha yang telah diangkat sebagai bhikkhu atau bhikkhuni ke dalam Sangha. Peraturan-peraturan ini berupa himbauan dari Sang Buddha dengan tujuan agar mereka menguasai dan mengendalikan perbuatan jasmani, pikiran dan ucapan mereka. Kitab ini juga menyangkut hal-hal mengenai pelanggaran peraturan; terdapat berbagai jenis peringatan dan usaha pengendalian sesuai dengan sifat pelanggaran yang dilakukan.

Secara umum Vinaya Pitaka dapat dibagi atas :
(1) Sutta Vibhanga
Bagian yang berhubungan dengan Pratimoksa/Patimokha yaitu peraturan-peraturan untuk para bhikkhu/bhikshu (227 peraturan) dan bhikkhuni/bhikshuni (311 peraturan).

(2) Khandaka-khandaka , terdiri dari Mahavagga dan Cullavagga.
Mahavagga merupakan serangkaian peraturan mengenai upacara penahbisan bhikkhu, upacara Uposatha, peraturan tentang tempat tinggal selama musim hujan [vassa], upacara pada akhir vassa [pavarana], peraturan mengenai jubah, peralatan, obat-obatan dan makanan, pemberian jubah Khatina setiap tahun, peraturan bagi bhikhu yang sakit, peraturan tentang tidur, tentang bahan jubah, tata cara melaksanakan sanghakamma (upacara sangha), dan tata cara dalam hal terjadi perpecahan.

Cullavagga, terdiri dari peraturan untuk menangani pelanggaran-pelanggaran, tata cara penerimaan kembali seorang bhikkhu ke dalam sangha setelah melakukan pembersihan atas pelanggarannya, tata cara untuk menangani masalah-masalah yang timbul, berbagai peraturan yang mengatur cara mandi, mengenakan jubah, menggunakan tempat tinggal, peralatan, tempat bermalam dan sebagainya, mengenai perpecahan kelompok-kelompok bhikkhu, kewajiban guru [acariya] dan calon bhikkhu [samanera], upacara pembacaan Patimokkha, penahbisan dan bimbingan bagi bhikkhuni, kisah mengenai Pasamu Agung Pertama di Rajagraha, dan kisah mengenai Pesamuan Agung Kedua di Vesali.

(3) Parivara,
Merupakan suatu ringkasan dan pengelompokan peraturan-peraturan Vinaya yang tersusun dalam bentuk tanya jawab untuk dipergunakan dalam pengajaran dan ujian.

  • Sutra Pitaka [Sutta Pitaka]
Merupakan kumpulan pembicaraan antara Sang Buddha dengan berbagai kalangan, semasa Beliau mengembangkan ajaranNya. Sutra Pitaka dapat dikelompokkan dalam lima kelompok utama, yaitu :
- Digha Nikaya (kumpulan sutra yang isinya panjang),
- Majjhima Nikaya (kumpulan sutra yang isinya tidak terlalu panjang),
- Samyutta Nikaya (kumpulan sutra yang isinya secara kelompok),
- Anguttara Nikaya (kumpulan sutra atas beberapa topik utama),
- Khuddaka Nikaya (kumpulan sutra dari berbagai bahan).
  • Abhidhamma Pitaka
sesuai uraian dari kaum Sthaviravada (Pali canon) dapat diuraikan menjadi tujuh jilid buku [pakarana], yaitu :
a. Dhammasangani, menguraikan mengenai etika dilihat dari sudut pandang ilmu jiwa

b. Vibhanga, menguraikan apa yang terdapat dalam buku Dhammasangani dengan metode yang berbeda. Buku ini dapat dibagi lagi dalam delapan bab [vibhanga], dan masing-masing bab memiliki tiga bagian yaitu Suttantabhajaniya, Abhidhammabhajaniya dan Pannapucchaka atau daftar pertanyaan-pertanyaan.

c. Dhatukatha, menguraikan mengenai unsur-unsur batin yang terbagi atas empat belas bagian.

d. Puggalapannatti, menguraikan berbagai watak manusia [puggala] yang terkelompok dalam sepuluh urutan kelompok.

e. Kathavatthu, terdiri dari dua puluh tiga bab yang merupakan kumpulan percakapan [katha] dan sanggahan terhadap pandangan salah yang dikemukan oleh berbagai sekte tentang hal-hal yang berhubungan dengan theologi dan metafisika.

f. Yamaka, terdiri dari sepuluh bab [yamaka], yaitu Mula, Khanda, Ayatana, Dhatu, Sacca, Sankhara, Anusaya, Citta, Dhamma dan Indriya.

g. Patthana, menerangkan mengenai sebab-sebab yang berkenaan dengan dua puluh empat hubungan antara batin dan jasmani [Paccaya].

Pengertian Tri Pitaka/Tipitaka


Tripiṭaka (bahasa Pali: Tipiṭaka; bahasa Sanskerta: Tripiṭaka) merupakan istilah yang digunakan oleh berbagai sekte Buddhis untuk menggambarkan berbagai naskah kanon mereka.[1]. Sesuai dengan makna istilah tersebut, Tripiṭaka pada mulanya mengandung tiga "keranjang" atau tiga "kelompok" akan berbagai pengajaran: Sūtra Piṭaka (Sanskrit; Pali: Sutta Pitaka), Vinaya Piṭaka (Sanskrit & Pali) dan Abhidharma Piṭaka (Sanskrit; Pali: Abhidhamma Piṭaka).
Sutta Pitaka berisi kotbah-kotbah Buddha selama 45 tahun membabarkan Dharma berjumlah 84.000 sutta. Vinaya Pitaka berisi peraturan Bhikkhu/ni, sedangkan Abhidhamma Pitaka berisi ilmu filsafat dan metafisika Agama Buddha.

Sejarah
Beberapa minggu setelah Sang Buddha wafat (483 SM) seorang Bhikkhu tua yang tidak disiplin bernama Subhaddha berkata : "Janganlah bersedih kawan-kawan, janganlah meratap, sekarang kita terbebas dari Pertapa Agung yang tidak akan lagi memberitahu kita apa yang sesuai untuk dilakukan dan apa yang tidak, yang membuat hidup kita menderita, tetapi sekarang kita dapat berbuat apa pun yang kita senangi dan tidak berbuat apa yang tidak kita senangi" (Vinaya Pitaka II,284). Maha Kassapa Thera setelah mendengar kata-kata itu memutuskan untuk mengadakan Pesamuan Agung (Konsili) di Rajagaha.

Dengan bantuan Raja Ajatasattu dari Magadha, 500 orang Arahat berkumpul di Gua Sattapanni dekat Rajagaha untuk mengumpulkan ajaran Sang Buddha yang telah dibabarkan selama ini dan menyusunnya secara sistematis. Yang Ariya Ananda, siswa terdekat Sang Buddha, mendapat kehormatan untuk mengulang kembali khotbah-khotbah Sang Buddha dan Yang Ariya Upali mengulang Vinaya (peraturan-peraturan). Dalam Pesamuan Agung Pertama inilah dikumpulkan seluruh ajaran yang kini dikenal sebagai Kitab Suci Tipitaka ([Pali). Mereka yang mengikuti ajaran Sang Buddha seperti tersebut dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali) disebut Pemeliharaan Kemurnian Ajaran sebagaimana sabda Sang Buddha yang terakhir: "Jadikanlah Dhamma dan Vinaya sebagai pelita dan pelindung bagi dirimu".

Pada mulanya Tipitaka (Pali) ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Satu abad kemudian terdapat sekelompok Bhikkhu yang berniat hendak mengubah Vinaya. Menghadapi usaha ini, para Bhikkhu yang ingin mempertahankan Dhamma - Vinaya sebagaimana diwariskan oleh Sang Buddha Gotama menyelenggarakan Pesamuan Agung Kedua dengan bantuan Raja Kalasoka di Vesali, di mana isi Kitab Suci Tipitaka (Pali) diucapkan ulang oleh 700 orang Arahat. Kelompok Bhikkhu yang memegang teguh kemurnian Dhamma - Vinaya ini menamakan diri Sthaviravada, yang kelak disebut Theravãda. Sedangkan kelompok Bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya menamakan diri Mahasanghika, yang kelak berkembang menjadi mazhab Mahayana. Jadi, seabad setelah Sang Buddha Gotama wafat, Agama Buddha terbagi menjadi 2 mazhab besar Theravãda dan Mahayana.

Pesamuan Agung Ketiga diadakan di Pattaliputta (Patna) pada abad ketiga sesudah Sang Buddha wafat (249 SM) dengan pemerintahan di bawah Kaisar Asoka Wardhana. Kaisar ini memeluk Agama Buddha dan dengan pengaruhnya banyak membantu penyebarkan Dhamma ke suluruh wilayah kerajaan. Pada masa itu, ribuan gadungan (penyelundup ajaran gelap) masuk ke dalam Sangha dangan maksud meyebarkan ajaran-ajaran mereka sendiri untuk meyesatkan umat. Untuk mengakhiri keadaan ini, Kaisar menyelenggarakan Pesamuan Agung dan membersihkan tubuh Sangha dari penyelundup-penyelundup serta merencanakan pengiriman para Duta Dhamma ke negeri-negeri lain.

Dalam Pesamuan Agung Ketiga ini 100 orang Arahat mengulang kembali pembacaan Kitab Suci Tipitaka (Pali) selama sembilan bulan. Dari titik tolak Pesamuaan inilah Agama Buddha dapat tersebar ke suluruh penjuru dunia dan terhindar lenyap dari bumi asalnya.

Pesamuan Agung keempat diadakan di Aluvihara (Srilanka) di bawah lindungan Raja Vattagamani Abhaya pada permulaan abad keenam sesudah Sang Buddha wafat (83 SM). Pada kesempatan itu Kitab Suci Tipitaka (Pali) dituliskan untuk pertama kalinya. Tujuan penulisan ini adalah agar semua orang mengetahui kemurnian Dhamma Vinaya.

Selanjutnya Pesamuan Agung Kelima diadakan di Mandalay (Burma) pada permulaan abad 25 sesudah Sang Buddha wafat (1871) dengan bantuan Raja Mindon. Kejadian penting pada waktu itu adalah Kitab Suci Titpitaka (Pali) diprasastikan pada 727 buah lempengan marmer (batu pualam) dan diletakkan di bukit Mandalay.
Persamuan Agung keenam diadakan di Rangoon pada hari Visakha Puja tahun Buddhis 2498 dan berakhir pada tahun Buddhis 2500 (tahun Masehi 1956). Sejak saat itu penterjemahan Kitab Suci Tipitaka (Pali) dilakukan ke dalam beberapa bahasa Barat.

Sebagai tambahan pengetahuan dapat dikemukakan bahwa pada abad pertama sesudah Masehi, Raja Kaniska dari Afganistan mengadakan Pesamuan Agung yang tidak dihadiri oleh kelompok Theravãda. Bertitik tolak pada Pesamuaan ini, Agama Buddha mazhab Mahayana berkembang di India dan kemudian meyebar ke negeri Tibet dan Tiongkok. Pada Pasamuan ini disepakati adanya kitab-kitab suci Buddhis dalam Bahasa Sanskerta dengan banyak tambahan sutra-sutra baru yang tidak terdapat dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali).

Dengan demikian, Agama Buddha mazhab Theravãda dalam pertumbuhannya sejak pertama sampai sekarang, termasuk di Indonesia, tetap mendasarkan penghayatan dan pembabaran Dhamma - Vinaya pada kemurnian Kitab suci tipitaka (Pali) sehingga dengan demikian tidak ada perbedaan dalam hal ajaran antara Theravãda di Indonesia dengan Theravada di Thailand, Srilanka, Burma maupun di negara-negara lain.

Sampai abad ketiga setelah Sang Buddha wafat mazhab Sthaviravada terpecah menjadi 18 sub mazhab, antara lain: Sarvastivada, Kasyapiya, Mahisasaka, Theravãda dan sebagainya. Pada dewasa ini 17 sub mazhab Sthaviravada itu telah lenyap. Yang masih berkembang sampai sekarang hanyalah mazhab Theravãda (ajaran para sesepuh). Dengan demikian nama Sthaviravada tidak ada lagi. Mazhab Theravãda inilah yang kini dianut oleh negara-negara Srilanka, Burma, Thailand, dan kemudian berkembang di Indonesia dan negara-negara lain

Sidang Agung I (Konsili Sangha I)
Sidang Agung I diadakan pada tahun 543 SM (3 bulan setelah bulan Mei) dan berlangsung selama 2 bulan. Sidang ini dipimpin oleh YA. Maha Kassapa dan dihadiri oleh 500 orang Bhikkhu yang semuanya Arahat. Sidang diadakan di Goa Satapani di kota Rajagaha. Sponsor sidang agung ini adalah Raja Ajatasatu.
Tujuan dari sidang pertama ini adalah untuk menghimpun ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan. Mengulang Dhamma dan Vinaya agar ajaran Sang Buddha tetap murni, kuat, melebihi ajaran-ajaran lainnya. Y.A. Upali mengulang Vinaya dan Y.A. Ananda mengulang Dhamma.
Kesimpulan dari sidang pertama ini adalah Sangha tidak akan menetapkan hal-hal mana yang perlu dihapus dan hal-hal mana yang harus dilaksanakan, juga tidak akan menambah apa-apa yang telah ada. Mengadili Y.A. Ananda. Mengucilkan Chana. Agama Buddha masih utuh.

Sidang Agung II (Konsili Sangha II)
Sidang Agung II diadakan pada tahun 443 SM (100 tahun sesudah yang I) dan berlangsung selama 4 bulan. Dipimpin oleh YA. Revata dan dibantu oleh YA. Yasa serta dihadiri oleh 700 Bhikkhu. Sidang diadakan di Vesali. Sponsor sidang agung ini adalah Raja Kalasoka.
Sidang kedua ini diadakan karena sekelompok Bhikkhu Sangha (Mahasanghika) menghendaki untuk memperlunak Vinaya yang sangat keras (tetapi gagal).
Dalam sidang kedua ini kesalahan-kesalahan Bhikkhu-Bhikkhu dari suku Vajjis yang melangggar pacittiya dibicarakan, diakui bahwa mereka telah melanggar Vinaya dan 700 Bhikkhu yang hadir menyatakan setuju. Pengulangan Vinaya dan Dhamma, yang dikenal dengan nama "Satta Sati" atau "Yasathera Sanghiti" karena Bhikkhu Yasa dianggap berjasa dalam bidang pemurnian Vinaya.

Sidang Agung III (Konsili Sangha III)
Diadakan pada tahun +/- 313 SM (230 tahun setelah sidang I). Dipimpin oleh Y.A. Tissa Moggaliputta. Sidang diadakan di Pataliputta. Sponsor Sidang Agung ini adalah Raja Asoka dari Suku Mauriya.
Tujuan sidang ini adalah untuk menertibkan perbedaan pendapat yang mengaktifkan perpecahan Sangha. Memeriksa dan menyempurnakan Kitab Suci Pali (memurnikan Ajaran Sang Buddha). Raja Asoka meminta agar para Bhikkhu mengadakan upacara Uposatha setiap bulan, agar Bhikkhu Sangha bersih dari oknum-oknum yang bermaksud tidak baik.
Sidang ini menghasilkan keputusan untuk menghukum Bhikkhu-Bhikkhu selebor. Ajaran Abhidhamma diulang tersendiri oleh Y.A. Maha Kassapa, sehingga lengkaplah pengertian Tipitaka (Vinaya, Sutta, dan Abhidhamma). Jadi pengertian Tipitaka mulai lengkap (timbul) pada Konsili III. Y.A. Tissa memilih 10.000 orang Bhikkhu Sangha yang benar-benar telah memahami Ajaran Sang Buddha untuk menghimpun Ajaran tersebut menjadi Tipitaka dan perhimpunan tersebut berlangsung selama 9 bulan.
Pada saat itu Sangha sudah terpecah dua, yaitu : Theravãda (Sthaviravada) dan Mahasanghika. Sementara itu ada ahli sejarah yang mengatakan bahwa pada Konsili III ini bukan merupakan konsili umum, tetapi hanya merupakan suatu konsili yang diadakan oleh Sthaviravada.

Sidang Agung IV (Konsili Sangha IV)
Diadakan pada masa pemerintahan Raja Vattagamani Abhaya (tahun 101 - 77 SM). Dipimpin oleh Y.A. Rakhita Mahathera dan dihadiri oleh +/- 500 Bhikkhu. Sidang diadakan di Alu Vihara (Aloka Vihara) di Desa Matale.
Tujuan dari sidang keempat ini adalah mencari penyelesaian karena melihat terjadinya kemungkinan-kemungkinan yang mengancam Ajaran-ajaran dan kebudayaan-kebudayaan Agama Buddha oleh pihak-pihak lain.
Keputusan sidang ini adalah supaya Tipitaka disempurnakan komentar dan penjelasannya serta menuliskan Tipitaka dan komentarnya di atas daun lontar.
Konsili ini diakui sebagai konsili yang ke IV oleh sekte Theravãda.


Referensi:
Wikipedia, 

Video Profile Kang Widi

Menerima Apresiasi Guru PAB Inovatif Tahun 2025

Menerima Apresiasi Guru PAB Inovatif Tahun 2025
Bersama Menteri Agama RI, Bapak Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.

Subscribe Media Belajar Temanggung

Subscribe Channel SBC Kendal


Sosok Inspiratif Cerdas Berkarakter Tahun 2022

Sosok Inspiratif Cerdas Berkarakter Tahun 2022

Bersama Bupati Kendal dan Kepala Disdik Kab. Kendal

Bersama Bupati Kendal dan Kepala Disdik Kab. Kendal
Menerima Apresiasi atas Prestasi sebagai TOP 6 ASN Inspiratif tahun 2021

52 Terbaik PNS Inspiratif 2018

Menerima Anugerah Bupati Kendal Award 2018

Menerima Anugerah Bupati Kendal Award 2018
Bersama Bupati Kendal Ibu dr. Mirna Annisa, M.Si. Menerima Anugerah Bupati Kendal Award 2018 Kategori Pegiat Pendidikan
Instagram

Translate

Popular Post

Cara merekam dan mengedit vocal pada Adobe Audition CS-6 Bagian 1

Gambar 1: Halaman Awal Aplikasi Adobe Audition CS-6 S alam Kreatif dan Inovatif, Para pembaca sekalian yang berbahagia, pada k...

Popular Posts