- Mari Terus Belajar, Berinovasi, Berkreasi dan Berkarya -

Late Post: Pendampingan Kegiatan Penyusunan Perangkat Pembelajaran Jenjang SMA/SMK Tingkat Nasional 2019


Setelah shering motivsi bersama mahasiswa Buddhis se Indonesia, pada pagi harinya Sabtu, 18 Mei 2019 ditempat yang sama, The Rich Hotel Jogjakarta, penulis mendapat kepercayaan untuk mendampingi kegiatan Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran Tinkat Menengah ATAS. Dalam kesempatan ini penulis sharing tentang Langkah-langkah penyusunan perangkat pembelajaran.


Peserta workshop ini adalah guru Pendidikan Agama Buddha jenjang SMA/SMK perwakilan dari seluruh Indonesia. Berperan sebgai moderator yang mendampingi penulis adalah bapak Totok Tejamano, Penyuluh Agama Buddha pada Kanwil Kemenag Provinsi DI. Yogyakarta.



Materi Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti BAB I - Agama dan Kerukunan

Sumber: photos-g.ak.fbcdn.netGambar 1.8 Kedamaian dan kebahagiaan
C. Agama dan Kerukunan
Manusia hidup dalam keberagaman dan kemajemukan baik itu dalam ras, suku, bahasa, adat istiadat juga kemajemukan agama. Kemajemukan ini yang menciptakan anekaragam budaya dan aspirasi, karenanya harus dipelihara untuk menjaga keindahannya. Kemajemukan agama juga dimiliki Bangsa Indonesia. Terdapat enam agama yang diakui oleh negara, dengan masing-masing agama memiliki kemajemukan sekte. Aneka ragam agama beserta sektenya tersebut, apabila tidak dijaga kemajemukannya akan menghilangkan keindahan dan ciri khas Bangsa Indonesia.

Sumber: Dok. KemdikbudGambar 1.9 Kerukunan antartokoh beragama
Tugas Individu
Amatilah Gambar 1.8 dan Gambar 1.9, kemudian jelaskan mengapa kita harus memiliki kerukunan baik kepada sesama agama dan kepada orang lain yang berbeda agama! Sebagai insan Pancasila dan orang yang beragama, tentu kita dapat menunjukkan dan menerapkan kerukunan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Agama dan kerukunan memberikan kedamaian yang dapat mendorong semua orang untuk memiliki kehidupan mulia. Berbuat baik dan benar dengan saling menghormati, serta menghargai keyakinan orang lain itulah yang disebut dengan kerukunan. 

Perilaku masyarakat yang mencerminkan kerukunan dalam kehidupan masyarakat di antaranya adalah kerukunan antarumat beragama dan kerukunan intern umat beragama. Perilaku yang mencerminkan kerukunan dan yang bertentangan dengan kerukunan tentunya sudah kamu pahami. Hal yang perlu kamu lakukan adalah senantiasa mewujudkan kerukunan dalam kehidupan sehari-hari. 

Tuliskan apa yang dilakukan seseorang ketika orang lain merayakan hari raya atau sedang beribadah!

Tuliskan contoh perbuatan yang mencerminkan kerukunan antarumat beragama dan intern umat beragama!
.............................................................................................................................................. ..............................................................................................................................................

Tuliskan contoh perbuatan yang tidak mencerminkan kerukunan antarumat beragama dan intern umat beragama!
..............................................................................................................................................
..............................................................................................................................................

Menganut salah satu agama sudah diwajibkan bagi warga negara Indonesia karena Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Enam agama yang secara resmi diakui oleh negara, masing-masing memiliki perbedaan ciri, karakter, ajaran, bahkan berbeda dalam menyebarkan paham ajaran mereka. Masing-masing agama yang diakui di Indonesia ini terpecah-pecah menjadi sekte-sekte lagi yang memiliki paham yang berbeda-beda juga.

Agama Buddha yang awalnya hanya satu kemudian terpecah-pecah menjadi banyak sekte yang pada masa setelah Buddha Parinibbana, agama Buddha di India terpecah menjadi 18 sekte. Pada masa sekarang sekte utama agama Buddha di dunia terdiri dari 3 yaitu Mahayana, Theravada, dan Vajrayana. Masing-masing sekte ini juga terpecah lagi menjadi sub-sub sekte, seperti dalam Mahayana terdapat sekte Pure Land (Tanah Suci), sekte Tzu Chi, dan lainnya. Adapun subsekte Theravada di Thailand yaitu Mahanikaya dan Dhammayuttika Nikaya. Kemajemukan sekte dan subsekte agama Buddha ini juga mempengaruhi agama Buddha di Indonesia yang perlu disikapi dengan bijaksana. Banyaknya agama yang diakui di Indonesia dan banyaknya sekte yang ada pada masing-masing agama juga banyaknya sekte dan subsekte dalam agama Buddha membentuk sikap penganutnya dalam keberagamaan. Sikap-sikap tersebut di antaranya disebut dengan pluralisme dan paralelisme, inklusivisme, eksklusivisme, serta ada yang menyebutkan eklektisisme, dan universalisme. Selain lima paham tersebut terdapat sikap toleransi dalam keberagamaan. 

Masing-masing sikap keberagamaan ini akan dijelaskan pada pembahasan di bawah ini:
1. Pluralisme dan Paralelisme
Kemajemukan dalam berbagai bidang kehidupan di dunia, juga di masyarakat Indonesia melahirkan paham pluralisme atau disebut juga paralelisme. Kata pluralisme, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa) diartikan sebagai keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya). Pluralisme juga diartikan sebagai sikap saling menghormati dan toleransi antara satu dengan lainnya sehingga tercipta kedamaian, tanpa konflik dan permusuhan. Paham ini berpandangan bahwa secara teologis, pluralitas agama merupakan suatu realitas. Perilaku seseorang yang menunjukkan pluralisme di masyarakat, antara lain adalah membantu sesama di lingkungan tanpa membedakan.

Tuliskan contoh perbuatan yang mencerminkan pluralisme di masyarakat!
..............................................................................................................................................
..............................................................................................................................................

Tuliskan contoh perbuatan yang tidak mencerminkan pluralisme di lingkungan masyarakat.
..............................................................................................................................................
..............................................................................................................................................

Paralelisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa) diartikan sebagai hal sejajar; kesejajaran; kemiripan. Pendapat lain menyatakan bahwa paralelisme dapat terekspresi dalam macam-macam rumusan misalnya: ”Agamaagama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama”; ”Agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan kebenarankebenaran yang sama sah”; atau setiap agama mengekspresikan bagian penting sebuah kebenaran.” Pada intinya pengertian pluralisme dengan paralelisme hampir sama.

2. Inklusivisme
Paham ini berbeda dengan paham pluralisme, karena dalam paham inklusivisme tidak menyamakan paham ajaran, tetapi menerima kebenaran agama sendiri tanpa menolak adanya kebenaran dari agama lainnya. Sama halnya dalam agama Buddha bahwa setiap umat Buddha hendaknya menyadari bahwa dalam agama Buddha tidak hanya terdapat sekte Theravada, Mahayana, atau Vajrayana, tetapi ketiga-tiganya ada. Umat Buddha harus menerima bahwa ada sekte atau sub sekte di luar sekte yang mereka anut, yang juga mengajarkan ajaran Buddha untuk menuju kebahagiaan tertinggi yaitu Nibbana.

3. Eksklusivisme
Bagi seorang eksklusivist, untuk bertemu pada kebenaran, tidak ada jalan lain selain membuang agama-agama lain, merangkul agama lain itu untuk masuk ke lembaga tempat ibadahnya. Orang yang menganut paham ini, tidak memiliki toleransi beragama maupun menghargai dan menghormati agama lain. Sikap orang dan kelompok masyarakat seperti inilah yang mengancam kemajemukan, mengancam perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, paham ini dapat menimbulkan peperangan dan konflik bagi negara yang majemuk. Jika paham ini diterapkan di Negara Indonesia, maka negara ini akan hancur. Paham eksklusivisme ini juga tidak dapat diterapkan dalam agama Buddha yang memiliki banyak sekte dan sub-sekte. Jika ada sekelompok umat Buddha yang bersikeras menerapkan paham ini, maka agama Buddha akan habis. Agama Buddha di Indonesia merupakan agama minoritas karena itu paham eksklusivisme ini harus dilenyapkan baik dalam hubungannya dengan intern umat Buddha maupun antarumat agama lainnya.

4. Eklektisisme
Jika sikap dan paham eklektisisme ini diterapkan dalam keberagamaan agama, dapat menimbulkan kesalahan dalam penerapan ajaran agama. Ciri khas dari agama tersebut akan kabur dan menimbulkan pendangkalan keberagamaan agama. Jika sikap ini diterapkan dalam kemajemukan sekte agama Buddha juga akan menimbulkan pendangkalan keberagaman sekte agama Buddha, meskipun sesungguhnya keberagaman sekte agama Buddha menimbulkan masalah.

5. Universalisme
Berdasarkan sejarah, universalisme dalam hubungannya dengan agama Buddha, menganggap bahwa semua manusia pada akhirnya akan mendapatkan karma baik atau buruk sesuai dengan perbuatannya. Paham ini juga diartikan sebagai paham yang tidak mengabaikan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan karena pada dasarnya agama ada untuk manusia. Faham universalisme menyatakan bahwa meskipun agama berbeda-beda tetapi pada prinsipnya penganut akan menikmati hidup sesuai dengan kebajikan atau perbuatan. Adapun dalam konteks pemahaman semua agama dapat diartikan bahwa meskipun agama berbeda-beda tetapi pada prinsipnya manusia akan diselamatkan. Dalam pemahaman Buddhis, diartikan bahwa meskipun agama berbeda-beda pada prinsipnya semua agama memiliki tujuan yang sama yaitu kebahagiaan yang bersifat universal.

6. Toleransi
Toleransi didefinisikan sebagai perilaku yang bersahabat dan adil terhadap pendapat dan praktik, atau terhadap orang yang memegang atau mempraktikkannya. Transportasi dan komunikasi modern telah membawa kita semua menuju lingkup kedekatan kepada orang-orang yang berbeda dan gagasan yang berbeda. Kita memiliki kebutuhan yang lebih besar pada toleransi. Buddha telah memberikan teladan sikap toleran ketika beliau menghadapi kemajemukan kepercayaan pada masa kehidupan beliau. Tokoh lain yang menunjukkan sikap toleransi adalah Raja Ashoka dalam Prasasti Batu Kalinga No. XXII dengan mengatakan:

”Janganlah kita menghormati agama kita sendiri dengan mencela agama lain. Sebaliknya agama lain pun hendaknya dihormati atas dasar-dasar tertentu. Dengan berbuat demikian kita membuat agama kita sendiri berkembang, selain menguntungkan pula agama lain. Jika kita berbuat agama sebaliknya kita akan merugikan agama kita sendiri, di samping merugikan agama orang lain. Oleh karena itu barang siapa menghormati agamanya sendiri dan mencela agama lain semata-mata terdorong rasa bakti kepada agamanya sendiri dan dengan pikiran bagaimana aku dapat memuliakan agamaku sendiri, justru ia akan merugikan agamanya sendiri. Karena itu kerukunan dianjurkan dengan pengertian biarlah semua orang mendengar dan bersedia mendengar ajaran yang dianut orang lain”.

Ashoka telah menunjukkan bahwa penghormatan terhadap agama sendiri bukanlah berarti dengan cara mencela agama orang lain. Justru menghormati agama orang lain sampai batas-batas tertentu dengan dasar tertentu merupakan suatu penghormatan terhadap agama sendiri. Demikian juga penghormatan terhadap sekte atau sub-sekte sendiri bukan berarti dengan mencela atau merendahkan sekte orang lain. Akan tetapi, dengan menghargai sekte orang lain maka akan menghargai sekte sendiri dan sekte sendiri akan dihargai oleh sekte lain.

Sumber : en.wikipedia.org/wiki/pilars_of_ashokaGambar 1.10 Pilar Ashoka

Gambar 1.11 Penyebaran Kerajaan Ashoka

Penanaman Nilai
Renungkan apabila keharmonisan dan kedamaian masyarakat begitu indah. Kerukunan, toleransi menjadikan watak anak bangsa, sungguh indah bangsa ini, Kerukunan menjadi model bangsa yang pluralistik.

Refleks
Setelah mempelajari dan menganalisis agama bagi kehidupan, manfaat apa saja yang kalian dapatkan?

Rangkuman
  1. Agama bukanlah sekedar sikap seseorang terhadap dunia fisik (duniawi) tetapi juga termasuk dunia spiritual (kesucian, kemuliaan, cinta kasih).
  2. Fungsi agama bagi manusia adalah sebagai sumber spiritual, pembimbing rohani manusia, pedoman dan sumber moral, serta sumber informasi masalah metafisika.
  3. Menghormati agama orang lain sampai batas-batas tertentu dengan dasar tertentu merupakan suatu penghormatan terhadap agama sendiri.

Penilaian Afektif
Bacalah pernyataan di bawah ini, kemudian isilah kolom kegiatan, alasan, dan konsekuensi pada Tabel 1.2. Jawablah sesuai dengan sikap dan perilakumu. 
Kolom Kegiatan : Berisi rutinitas kegiatan (selalu, sering, jarang, atau tidak pernah). 
Kolom Alasan : Berisi alasan mengapa rutinitas kegiatan tersebut kamu lakukan. 
Kolom Konsekuensi : Berisi bentuk konsekuensi jawabanmu.

Tabel 1.2 Penilaian Afektif: Kegiatan, Alasan, dan Konsekuensi terhadap Pernyataan Sikap


Kecakapan Hidup
Setelah kalian menyimak wacana di atas, tulislah hal-hal yang telah kamu mengerti dan hal-hal yang belum kamu mengerti pada kolom berikut ini!






Materi Pelajaran Pendidikan Agama Buddha SMA/SMK Kurikulum 2013 Kelas X


Bab I Agama Bagi Kehidupan

Bab II Cara Memilih Agama
A. Kebebasan Memilih Agama
B. Cerita Suku Kalama
C. Keunikan Agama Buddha

Bab III Perlindungan
B. Perlindungan Fisik

Bab IV Agama Buddha dan Iptek atau Sains Modern
A. Pengertian Ilmu Pengetahuan
B. Definis Ilmu Pengetahuan
C. Syarat-Syarat Ilmu
D. Definis Teknologi
E. Kemajuan Teknologi
F. Ciri-Ciri Fenomena yang Diperlihatkan oleh Teknologi
G. Teknologi dalam Pandangan Buddhis

Bab V Seni dan Budaya Buddhis
A. Pengertian
B. Pewarisan Kebudayaan
C. Seni dan Apresiasi
D. Seni dan Budaya Buddhis
E. Macam-Macam Seni dan Budaya

Bab VI Fenomena Alam dan Kehidupan
A. Fenomena Alam-Kehidupan dan ”Dewa Pencipta”
B. Berbagai Fenomena Alam
C. Berbagai Fenomena Kehidupan

Bab VII Niyama

Bab VIII Tipitaka

Bab IX Intisari Ajaran Buddha
A. Tidak Berbuat Kejahatan
B. Berbuatlah Kebajikan
C. Sucikan Pikiran




Download selengkapnya disini.

Kosmologi Buddhis - Kosmologi dan Alam Kehidupan



Manusia selalu memiliki rasa ingin tahu dengan kondisi alam sekitarnya. Ketika kita memandang ke atas langit, kita mungkin bertanya-tanya seberapa luas alam semesta, berapakah umurnya, dan bagaimana awal dan akhirnya. Semua rasa ingin tahu yang mengarah pada pertanyaan-pertanyaan ini menimbulkan apa yang disebut bidang ilmu kosmologi saat ini. Bidang ilmu ini dulunya merupakan kajian agama yang berupaya mencari jawaban atas asal-usul alam semesta, manusia, dan Tuhan, yang kemudian melahirkan filsafat alam semesta yang lebih bersifat metafisika sebelum akhirnya berkembang menjadi kosmologi modern yang menggabungkan observasi dan pendekatan matematis untuk menjelaskan alam semesta secara menyeluruh.

Kosmologi Buddhis merupakan penjelasan atas struktur dan keadaan alam semesta berdasarkan berbagai sutta/sutra (kotbah Sang Buddha). Dalam berbagai sutta Buddha menjelaskan berbagai kondisi alam kehidupan, pada sutta lainnya Buddha menggambarkan awal mula kemunculan manusia di bumi. Gambaran alam semesta menurut agama Buddha tidak boleh dipahami secara harfiah dan mungkin tidak dapat diuji dengan percobaan ilmiah. Ia bisa saja tidak sesuai dengan fakta astronomi yang telah ditemukan saat ini. Ia hanya bisa diamati melalui meditasi karena kosmologi Buddhis merupakan struktur alam semesta yang diamati oleh mata batin (dibbacakkhu) seorang Buddha dan orang-orang yang telah melatih pikiran mereka sampai pada tingkat pemusatan pikiran tertentu.

Luas Alam Semesta Dalam Ananda Vagga, Anguttara Nikaya, Sang Buddha menjelaskan kepada Ananda tentang luasnya alam semesta sebagai berikut:

“Ananda, apakah kau pernah mendengar tentang seribu Culanika lokadhatu (tata surya kecil)?” “Ananda, sejauh matahari dan bulan berotasi pada garis orbitnya, dan sejauh pancaran sinar matahari dan bulan di angkasa, sejauh itulah luas seribu tata surya. Di dalam seribu tata surya terdapat seribu matahari, seribu bulan, seribu gunung Sineru, seribu Jambudipa, seribu Aparayojana, seribu Uttarakuru, seribu Pubbavideha, empat ribu maha samudera, empat ribu maharaja, seribu Catummaharajika, seribu Tavatimsa, seribu Yama, seribu Tusita, seribu Nimmanarati,seribu Paranimmitavassavati, dan seribu alam Brahma. Inilah Ananda, yang dianamakan seribu tata surya kecil  (Sahasi culanika lokadhatu). Ananda, seribu kali Sahasi culanika lokadhatu dinamakan Dvisahassa majjhimanika lokadhatu, seribu kali Dvisahassa majjhimanika lokadhatu dinamakan Tisahassi Mahasahassi lokadhatu. Ananda, bilamana Sang Tathagata (sebutan yang digunakan Buddha untuk menunjuk pada diri-Nya sendiri) mau, maka Ia dapat memperdengarkan suara-Nya sampai terdengar di Tisahassi Mahasahassi lokadhatu ataupun melebihi itu lagi.”

Di sini Buddha menjelaskan terdapat sistem tata surya yang disebut seribu tata surya di mana terdapat seribu matahari, seribu bulan, dan seribu bumi di mana dapat ditemukan gunung Sineru sebagai pusat bumi, Jambudipa (benua di sebelah selatan), Aparayojana (benua di sebelah barat), Uttarakuru (benua di sebelah utara), dan Pubbavideha (benua di sebelah timur) dengan empat maha samudera yang mengelilingnya. Di masing-masing benua terdapat penguasanya masing-masing sehingga dikatakan terdapat empat ribu maharaja dalam seribu tata surya tersebut. Selanjutnya dalam seribu tata surya terdapat seribu alam surga yang diliputi nafsu inderawi (alam Catummaharajika, Tavatimsa, Yama, Tusita, Nimmnarati, Paranimmitavassavati) dan seribu alam surga yang tidak diliputi nafsu inderawi (alam Brahma). Tentu saja alam semesta lebih luas dari sekedar seribu tata surya karena Buddha menyebut sampai adanya 1.000 x 1.000 x 1.000 = 1.000.000.000 tata surya bahkan melebihi itu lagi di mana suara seorang Buddha dapat diperdengarkan melebihi jangkauan semilyar tata surya. Dari penjelasan ini kita dapat mengatakan bahwa kemungkinan terdapat kehidupan lain di alam semesta selain kehidupan manusia di bumi kita ini.

Hal ini dapat dilihat dari pernyataan bahwa terdapat empat ribu maharaja di seribu bumi dalam seribu tata surya, yang menggambarkan bahwa masing-masing bumi (atau lebih tepat disebut planet yang memiliki kehidupan) dalam seribu tata surya tersebut memiliki makhluk hidup yang dipimpin oleh para pemimpin mereka masing-masing. Kemungkinan kisah-kisah alien dan UFO yang beredar selama ini juga tersisip suatu kebenaran. Struktur Alam Semesta Lainnya Sutra lain yang banyak menggambarkan alam semesta adalah Avatamsaka Sutra yang berbahasa Sanskerta. Berikut ini terdapat beberapa kutipan Avatamsaka Sutra bab 4 yang berkaitan dengan kosmologi Buddhis: “Putera-putera Buddha, sistim-sistim dunia (galaksi) tersebut memiliki aneka bentuk dan sifat-sifat yang berbeda. Jelasnya, beberapa di antaranya bulat bentuknya, beberapa di antaranya segi empat bentuknya, beberapa di antaranya tidak bulat dan tidak pula segiempat. Ada perbedaan [bentuk] yang tak terhitung. Beberapa bentuknya seperti pusaran, beberapa seperti gunung kilatan ahaya, beberapa seperti pohon, beberapa seperti bunga, beberapa seperti istana, beberapa seperti makhluk hidup, beberapa seperti Buddha….”

Penjelasan di atas menggambarkan terdapat berbagai bentuk sistem dunia (yang mungkin dapat disamakan dengan galaksi). Menurut hasil pengamatan, beberapa galaksi seperti galaksi Bima Sakti kita dan Andromeda berbentuk spiral (pusaran), beberapa seperti galaksi M47 dan M89 berbentuk elips (bulat), beberapa berbentuk tidak beraturan (tidak bulat dan tidak segiempat) seperti galaksi Awan Magellan dan M82, dan beberapa lainnya berbentuk seperti makhluk hidup misalnya Nebula Kepala Kuda.

“Terdapat beberapa sistim dunia, Terbentuk dari permata, Kokoh dan tak terhancurkan, Bernaung di atas bunga teratai nan berharga.” “Beberapa di antaranya terbentuk dari berkas cahaya murni, Yang asalnya tak dikenal, Semuanya merupakan berkas-berkas cahaya, Bernaung di ruang kosong.” “Beberapa di antaranya terbentuk dari cahaya murni, Dan juga bernaung pada pancaran-pancaran cahaya, Diselubungi oleh awan cahaya, Tempat di mana para Bodhisattva berdiam.”

Ini menjelaskan komposisi galaksi di alam semesta: ada yang terdiri atas materi (yang digambarkan seperti permata), ada yang terdiri dari sinar kosmis (yang digambarkan sebagai berkas cahaya), dan ada yang diselubungi awan gas nebula (yang digambarkan sebagai awan cahaya).

“Siswa-siswa Buddha, jika dijelaskan secara singkat, terdapat sepuluh penyebab dan kondisi yang menyebabkan terbentuknya sistim dunia, baik yang telah berlangsung, sedang berlangsung, atau akan berlangsung. Apakah sepuluh hal itu?
Kesepuluh hal itu adalah:
1) Karena kekuatan gaib para Buddha
2) Terbentuk secara alami oleh hukum alam
3) Karena akumulasi karma para makhluk
4) Karena apa yang telah direalisasi oleh para Bodhisattva yang mengembangkan kemaha-tahuan.
5) Karena akar kebajikan yang diakumulasi baik oleh para Bodhisattva dan semua makhluk.
6) Karena kekuatan ikrar para Bodhisattva yang memurnikan dunia-dunia itu.
7) Karena para Bodhisattva telah menyempurnakan praktek kebajikan dengan pantang mundur.
8) Karena kekuatan kebebasan para Bodhisattva dalam kebajikan murni.
9) Karena kekuatan independen yang mengalir dari akar kebajikan semua Buddha dan saat pencerahan semua Buddha.
10) Karena kekuatan independen ikrar Bodhisattva Kebajikan Universal.”

Kutipan di atas menjelaskan penyebab terbentuknya galaksi yang salah satunya disebabkan oleh bekerjanya hukum alam sesuai dengan teori kosmologi modern, sedangkan penyebab lainnya merupakan hasil dari perbuatan (karma) atau kebajikan makhluk hidup apakah makhluk biasa, seorang Bodhisattva (calon Buddha), ataupun seorang Buddha. Berikut ini terdapat beberapa kutipan dari Avatamsaka Sutra bab 5: “Sistem Dunia Tepian Bunga, Adalah sama dengan jagad raya, Perhiasannya sungguh murni, Berada dengan damai di ruang angkasa.” Ini menyiratkan bahwa benda-benda langit di alam semesta berada dalam ruang angkasa tanpa ada sesuatu yang menahannya di tempatnya (tidak seperti kepercayaan orang Yunani yang meyakini Atlas memangkul bumi di atas punggungnya).

“Dalam setiap sistem dunia itu, Terdapat dunia-dunia yang banyaknya tak terbayangkan, Beberapa diantaranya sedang tercipta, Beberapa di antaranya sedang menuju kemusnahannya, Beberapa di antaranya bahkan telah musnah.”

Menurut kosmologi Buddhis, dunia-dunia (dalam istilah astronomi mungkin bisa disamakan dengan planet atau benda langit lainnya) di alam semesta ada yang sedang terbentuk, ada yang sedang berproses menuju kehancuran, dan ada yang sudah hancur seperti pada kutipan di atas.

Siklus Alam Semesta Menurut agama Buddha, alam semesta telah mengalami banyak siklus pembentukan dan kehancuran yang tidak terhitung. Periode dari terbentuknya alam semesta sampai dengan kehancurannya disebut mahakappa atau mahakalpa. Lamanya satu siklus semesta atau satu mahakappa tidak pernah dihitung dalam angka tahun yang pasti, tetapi hanya dikatakan sangat lama. Buddha menjelaskan lamanya satu mahakappa sebagai berikut:

“Andaikan, para bhikkhu, terdapat sebuah batu besar yang bermassa padat, satu mil panjangnya, satu mil lebarnya, satu mil tingginya, tanpa ada retak atau cacat, dan setiap seratus tahun sekali seseorang akan datang dan menggosoknya dengan sehelai kain sutra, maka batu tersebut akan aus dan habis lebih cepat daripada satu siklus dunia. Namun dari siklus-siklus dunia tersebut, para bhikkhu, banyak yang telah dilewati, beratus-ratus, beribu-ribu, beratus-ratus ribu. Bagaimana hal ini mungkin? Tidak terbayangkan, para bhikkhu, lingkaran kehidupan (samsara) ini, tidak dapat ditemukan awal mula dari makhluk pertama, yang dihalangi oleh ketidaktahuan dan diliputi oleh nafsu keinginan, berkelana ke sana ke mari dalam lingkaran kelahiran kembali ini.” (Samyutta Nikaya, XV:5)

Dengan demikian usia alam semesta dari terbentuknya sampai kehancurannya sangatlah panjang, tidak terhitung bahkan dalam milyaran tahun. Karena terdapat banyak sekali siklus pembentukan dan kehancuran alam semesta, maka tidak dapat diketahui bagaimana awal mula makhluk pertama yang terdapat dalam lingkaran kehidupan dan kematian ini. Dalam hal ini agama Buddha cenderung menganggap awal mula pertama alam semesta tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia biasa (acinteyya), oleh sebabnya menyerahkan persoalan ini sepenuhnya kepada ilmu pengetahuan.

Lebih lanjut siklus alam semesta dibagi menjadi empat periode yang disebut asankheyya kappa (masa tak terhitung), yaitu:
1.  Periode kehancuran (samvatta-kappa).
2.  Periode berlangsungnya kehancuran (samvattatthayi-kappa).
3.  Periode pembentukan (vivatta-kappa).
4.  Periode berlangsungnya pembentukan (vivattatthayi-kappa).

“Berapa lama kehancuran dunia akan terjadi, berapa lama berlangsungnya kehancuran, berapa lama pembentukan, berapa lama berlangsungnya pembentukan, dari hal-hal demikian, para bhikkhu, seseorang akan sukar mengatakan bahwa ini akan terjadi bertahun-tahun, atau berabad-abad, atau beribu-ribu tahun, atau beratus-ratus ribu tahun,”

Demikianlah sabda Sang Buddha tentang lamanya setiap periode dalam satu siklus alam semesta dalam Anguttara Nikaya IV:156 yang menyiratkan bahwa panjang masing-masing periode tersebut tak terhitung lamanya.

Periode pertama dari siklus semesta dimulai saat terjadinya hujan deras yang menyirami seratus milyar tata surya (kotisatasahassa cakkavala) sampai padamnya api (jika alam semesta hancur karena api), surutnya air (jika alam semesta hancur karena air), atau redanya angin besar (jika alam semesta hancur karena angin). Dengan demikian, kehancuran alam semesta dapat disebabkan oleh unsur api, air atau angin.
Dalam agama Buddha setiap materi (rupa) dibentuk dari 4 unsur dasar (mahabhuta), yaitu:
1. Unsur tanah: unsur yang memberi landasan atau fondasi bagi unsur lainnya, yang bersifat padat dan memberi ruang (spasial).
2. Unsur api: unsur yang berkenaan dengan suhu dan energi, termasuk di dalamnya energi kalor, radiasi, dan cahaya.
3.  Unsur air: unsur yang memiliki sifat kohesi (gaya tarik-menarik antar partikel yang sejenis) atau adhesi (gaya tarik-menarik antar partikel yang tidak sejenis) seperti zat cair dan sejenisnya.
4.  Unsur angin: unsur yang memberi unsur lainnya kemampuan gerak atau tekanan, misalnya gaya dan tekanan udara/atmosfer.

Kehancuran semesta oleh api digambarkan sebagai berikut: Karena terjadinya hujan deras yang jatuh di seluruh alam semesta, manusia bergembira, mereka mengeluarkan benih simpanan mereka, dan menanamnya, tetapi ketika kecambah mulai tumbuh cukup tinggi bagi anak sapi untuk merumput, tiada lagi hujan yang turun setetes pun sejak saat itu. Para mahluk yang hidupnya bergantung dari air hujan menjadi mati dan terlahir kembali di alam Brahma, begitu juga para dewa yang hidupnya tergantung pada buah-buahan dan bunga. Setelah melewati periode yang sangat panjang dalam kemarau seperti ini, air mulai mengering sehingga para makhluk air seperti ikan dan kura-kura mati dan terlahir kembali di alam Brahma.

Demikian juga para mahluk penghuni neraka (ada juga yang mengatakan para mahluk penghuni neraka mati dengan kemunculan matahari ketujuh). Setelah beberapa periode yang sangat lama, akan muncul matahari kedua, di mana ketika matahari pertama tenggelam, matahari kedua akan terbit sehingga siang dan malam tidak bisa dibedakan serta bumi terus-menerus diterpa terik matahari. Angkasa akan menjadi hampa tanpa kehadiran awan dan uap air. Dimulai dengan anak sungai, air di semua sungai, kecuali sungai-sungai besar, akan menguap. Setelah waktu yang panjang berlalu matahari ketiga muncul. Dengan munculnya matahari ketiga air dari semua sungai besar juga menguap. Kemudian setelah periode yang lama berlalu matahari keempat muncul, danau-danau besar yang menjadi sumber mata air sungai-sungai besar juga ikut menguap. Setelah sekian lama berlalu akan muncul matahari kelima di mana air yang tersisa di samudera tidak cukup tinggi untuk membasahi satu ruas jari tangan. Kemudian di akhir periode itu muncullah matahari keenam yang membuat seluruh dunia menguap menjadi gas, semua kelembabannya telah menguap, seratus milyar tata surya yang ada di sekeliling tatasurya kita sama nasibnya seperti tata surya kita. Setelah lama berlalu matahari ketujuh muncul. Setelah munculnya matahari ketujuh, seluruh dunia (tatasurya kita) bersama dengan seratus milyar tatasurya yang lain terbakar habis.

Puncak gunung Sineru yang tingginya lebih dari seratus yojana (1 yojana kurang lebih sama dengan 7 mil) juga ikut hancur berantakan dan lenyap di angkasa. Kebakaran bertambah besar dan menyerang alam surga Catumaharajika sampai ke alam Brahma di mana api akan berhenti sebelum mencapai alam Brahma Abhassara. Selama masih ada bentuk walaupun seukuran atom, api itu tidak lenyap karena api hanya lenyap setelah semua materi musnah terbakar, seperti api yang membakar ghee (lemak yang berasal dari susu) dan minyak tidak meninggalkan debu. Sedangkan kehancuran oleh air, kejadiannya sama seperti kehancuran oleh api, hanya saja setelah hujan deras yang meliputi seluruh alam semesta, muncul awan kaustik yang maha besar (kharudaka) yang menyebabkan hujan. Hujan tersebut mulanya turun perlahan-lahan kemudian sedikit demi sedikit bertambah besar sampai menyirami seratus milyar tata surya. Air merendam semua yang ada di bumi sampai ke alam surga ke atas dan berhenti sebelum mencapai alam Brahma Subhakinha. Air tersebut tak akan surut apabila masih ada materi yang tersisa walaupun hanya sebesar atom dan hanya akan surut apabila semua materi telah larut. Kehancuran alam semesta karena angin mirip dengan kehancuran oleh api dan air, yaitu diawali dengan munculnya hujan yang mengawali kehancuran semesta, tetapi bila kehancuran karena api muncul matahari kedua, maka pada kehancuran oleh angin muncullah angin. Pertama kali muncul angin yang menerbangkan debu kasar kemudian debu halus lalu pasir halus, pasir kasar, kerikil, batu dan seterusnya sampai mengangkat batu sebesar batu nisan dan meniup pohon-pohon besar dari bumi ke luar angkasa dan tidak jatuh kembali ke bumi, tetapi hancur berkeping-keping dan musnah. Kemudian angin muncul dari bawah permukaan bumi dan membalikkan bumi, melemparnya ke angkasa. Bumi hancur menjadi pecahan kecil-kecil dan terlempar ke angkasa juga, hancur berkeping-keping lalu musnah. Gunung-gunung di seluruh tata surya dan gunung Sineru tercabut ke luar angkasa dan saling bertumbukan hingga hancur berkeping-keping lalu lenyap.

Dengan cara yang sama angin menghancurkan alam surga yang ada di bumi  dan yang ada di angkasa. Kekuatan angin itu meningkat terus dan menghancurkan keenam alam surga (dari Catumaharajika sampai ke Paranimmitavasavatti). Seratus milyar tata surya ikut hancur juga karena saling bertabrakan. Angin akan menghancurkan semua materi sampai ke alam Brahma dan berhenti sebelum sampai di alam Brahma Vehapphala. Penyebab kehancuran alam semesta ini tak lain adalah tiga akar kejahatan, yaitu keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha). Jika para makhluk memiliki keserakahan yang lebih dominan, maka alam semesta akan hancur oleh api; jika kebencian lebih dominan, maka alam semesta akan hancur oleh air; jika kebodohan batin (yaitu ketidakmampuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah), maka alam semesta akan hancur karena angin. Ketika seluruh alam semesta hancur sampai ke alam Brahma, periode kedua, yaitu periode berlangsungnya kehancuran dimulai.

Periode ini berakhir saat munculnya hujan deras yang menandai akan terjadinya pembentukan semesta. Selama periode ini alam semesta dalam keadaan kosong karena semua materi telah musnah, hanya terdapat kegelapan yang mencekam. Setelah munculnya hujan deras yang kedua (hujan deras pertama adalah hujan yang menandai kehancuran semesta), periode pembentukan dimulai di mana air hujan tersebut menggenangi seluruh alam semesta yang kosong. Kemudian angin (unsur gaya dan tekanan) muncul dan menekan serta membulatkan air tersebutnya, seperti butir air di daun teratai. Dikarenakan tertekan oleh udara, air menyatu dan berkurang membentuk unsur lainnya hingga menyebabkan terbentuknya kembali berbagai alam kehidupan. Proses pembentukan alam kehidupan ini berlawanan dengan proses kehancurannya, yaitu dimulai dari alam Brahma terlebih dahulu lalu alam-alam surga di bawahnya, terakhir barulah matahari, bulan, dan bumi terbentuk. Periode keempat (berlangsungnya pembentukan) dimulai setelah munculnya benda-benda langit bersama dengan terbentuknya bumi. Kemudian humus tertentu muncul di atas permukaan bumi, yang memiliki warna, bau dan rasa seperti lapisan di atas permukaan tajin yang berasal dari cucian beras.

Kemudian para makhluk yang saat kehancuran semesta terlahir di alam Brahma, karena habisnya usia mereka atau habisnya karma baik mereka yang menopang kehidupan di sana, mereka terlahir kembali di bumi (alam manusia). Tubuh mereka bercahaya dan melayang layang di angkasa. Setelah memakan humus tersebut, mereka dikuasai oleh kemelekatan seperti yang di uraikan dalam Aganna Sutta (Digha Nikaya III:85). Setelah waktu yang lama, sesuai dengan makanan yang mereka konsumsi, tubuh para makhluk tersebut semakin memadat dan semakin mirip dengan tubuh manusia. Mereka kehilangan cahaya tubuhnya dan mulai menampakkan perbedaan fisik sebagai laki-laki dan perempuan sesuai dengan perbuatan masa lampau mereka. Ketika makhluk-makhluk tersebut saling melihat perbedaan tubuh mereka, timbul nafsu yang menyebabkan mereka saling tertarik dengan lawan jenisnya. Kemudian muncullah tempat tinggal yang dibangun untuk menyembunyikan aktivitas seksual mereka. Lalu kejahatan seperti pencurian dan kekerasan muncul di antara mereka sehingga mereka membangun stratifikasi sosial. Sistem pemerintahan pun terbentuk dan seorang yang dianggap mampu dipilih sebagai pemimpin mereka. Selanjutnya, masing-masing periode asankheyya kappa dalam satu siklus semesta dibagi lagi menjadi 64 periode yang disebut antara kappa (masa peralihan), yaitu periode yang berlangsung ketika usia manusia menurun dari tak terhitung (asankhyeyya) menjadi sepuluh tahun lalu naik lagi menjadi tak terhitung.

Lamanya 1 antara kappa ini pun tidak pernah dihitung dalam hitungan tahun. Dengan demikian, 1 siklus alam semesta = 4 periode asankheyya kappa = 4 x 64 periode antara kappa. Pada periode asankheyya kappa pertama sampai ketiga tidak terdapat makhluk hidup sehingga tidak dapat dihitung kapan peralihan antara satu antara kappa dengan antara kappa lain, namun lamanya masing-masing periode asankheyya kappa tersebut sama dengan 64 antara kappa seperti pada periode asankheyya kappa keempat di mana manusia muncul.

Pada awal kemunculannya di bumi manusia memiliki usia yang sangat panjang yang tidak terhitung. Kemudian karena timbulnya tiga akar kejahatan (lobha, dosa, dan moha) perlahan-lahan umur rata-rata manusia berkurang menjadi 80.000 tahun pada generasi berikutnya. Ketika manusia mulai mengenal pencurian dan pembunuhan, umur rata-rata generasi berikutnya berkurang menjadi 40.000 tahun; ketika mengenal kebohongan, umur rata-rata generasi berikutnya berkurang menjadi 20.000 tahun; ketika mengenal tindakan mengadukan kejahatan orang lain, umur rata-rata generasi berikutnya berkurang menjadi 10.000 tahun; ketika mengenal perbuatan asusila, umur manusia berkurang menjadi 5.000 tahun; ketika mengenal ucapan kasar dan pembicaraan yang tidak bertujuan (omong kosong), umur manusia menjadi 2.500 tahun dan beberapa ada yang berumur 2.000 tahun; ketika muncul sifat iri hati dan kebencian, umur manusia menjadi 1.000 tahun; ketika muncul pandangan salah, umur manusia menjadi 500 tahun; ketika muncul hubungan seksual sedarah, keserakahan berlebihan, dan hubungan seksual sesama jenis, umur manusia menjadi 250 tahun dan beberapa ada yang berumur 200 tahun; ketika manusia kurang menghormati orang tua, pemuka agama, dan tokoh masyarakat, umur mereka berkurang menjadi 100 tahun. Lama-kelamaan kejahatan akan semakin disenangi dan kebajikan akan semakin dijauhi hingga akhirnya umur manusia tinggal 10 tahun saja di mana bagi para wanita usia 5 tahun adalah usia untuk menikah.

Semua proses penurunan usia ini dijelaskan dalam Cakkavatti-sihanada Sutta (Digha Nikaya, III:26). Pada masa ketika manusia berusia 10 tahun akan terjadi kekurangan makanan dalam tujuh hari yang membinasakan semua orang jahat jika penurunan usia ini disebabkan oleh meningkatnya keserakahan. Jika penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya kebodohan batin, akan terjadi wabah penyakit dalam tujuh hari dan semua orang jahat akan binasa. Jika penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya kebencian, akan terjadi saling bunuh di antara sesama manusia dengan menggunakan senjata dalam masa tujuh hari dan semua orang jahat akan binasa. Beberapa orang yang bersembunyi dan menyelamatkan diri dari bencana ini (kelaparan, wabah penyakit, atau pembunuhan besar-besaran). Setelah tujuh hari mereka akan keluar dan menyesali kejahatan mereka dengan bertekad untuk tidak melakukan pembunuhan lagi. Karena tidak melakukan pembunuhan lagi, usia manusia pada generasi berikutnya bertambah menjadi 20 tahun. Karena tidak melakukan pencurian, kebohongan, fitnah, ucapan kasar, pembicaraan tidak berguna, iri hari, permusuhan, pandangan salah, hubungan seksual sedarah, keserakahan berlebihan, hubungan seksual sesama jenis, dan menghormati orang tua, pemuka agama, dan tokoh masyarakat, usia manusia perlahan-lahan menaik menjadi 40 tahun, 80 tahun, 160 tahun, 320 tahun, 640 tahun, 1.000 tahun, 2.000 tahun, 4.000 tahun, 8.000 tahun, 20.000 tahun, 40.000 tahun, dan 80.000 tahun pada generasi-generasi berikutnya. Pada masa ketika usia manusia 80.000 tahun, usia 5.000 tahun merupakan usia pernikahan untuk para wanita. Ketika kebajikan berkembang dan kejahatan tidak dikenal sama sekali, manusia akan mencapai usia yang sangat panjang yang tidak terhitung. Demikianlah umur kehidupan manusia naik dari sepuluh tahun hingga tidak terhingga saat mereka mengembangkan kebajikan dan turun dari tidak terhingga menjadi sepuluh tahun saat mereka dikuasai oleh kejahatan.

Hal ini akan terus berulang-ulang sampai 64 kali selama masa asankheyya kappa keempat hingga akhirnya siklus berulang dan kembali ke periode kehancuran. Pada periode berlangsungnya pembentukan semesta yang kita alami saat ini telah muncul empat orang Buddha (yaitu Kakusandha, Konagamana atau Kanakamuni, Kassapa, dan Gautama atau Sakyamuni) dan akan muncul lagi seorang Buddha (yaitu Metteya atau Maitreya) pada masa yang akan datang. Karena kemunculan 5 orang Buddha pada siklus semesta kita saat ini, maka periode ini disebut bhaddakappa atau bhadrakalpa (masa keberuntungan). Dalam beberapa siklus semesta lainnya tidak muncul seorang Buddha pun (disebut sunyakappa/sunyakalpa atau masa kosong), sedangkan yang lain muncul satu sampai dengan maksimum lima orang Buddha. Pada periode antara kappa kedelapan dalam masa asankheyya kappa saat ini, ketika usia manusia menurun perlahan-lahan dari tak terhingga menjadi 40.000 tahun, Buddha Kakusandha muncul di dunia.

Setelah Buddha Kakusandha wafat, usia manusia perlahan-lahan turun dari 40.000 tahun menjadi 10 tahun kemudian naik lagi menjadi tak terhingga. Setelah itu usia manusia kembali turun menjadi 30.000 tahun. Saat inilah muncul Buddha Konagamana di dunia. Setelah Buddha Konagamana wafat, usia manusia turun perlahan-lahan dari 30.000 tahun menjadi 10 tahun kemudian naik lagi menjadi tak terhingga. Saat usia manusia kembali turun menjadi 20.000 tahun, Buddha Kassapa muncul di dunia. Setelah Buddha Kassapa wafat, umur manusia turun perlahan-lahan menjadi 10 tahun lalu naik menjadi tak terhingga. Ketika umur manusia turun perlahan-lahan dari tak terhingga menjadi 100 tahun saja, Buddha Gautama yang kita kenal dalam sejarah muncul. Saat ini usia rata-rata kehidupan manusia semakin berkurang karena semakin menurunnya moralitas manusia itu sendiri.

Ajaran Buddha Gautama yang sekarang dikenal sebagai agama Buddha pun akan perlahan-lahan dilupakan dan lenyap sekitar 5000 tahun setelah wafatnya Buddha Gautama. Kelak penurunan usia manusia akan mencapai puncaknya ketika usia manusia tinggal 10 tahun. Saat itu akan terjadi tujuh hari “masa pedang”, yaitu pembunuhan besar-besaran sesama manusia dengan senjata (yang diumpamakan dalam sutta sebagai pedang) karena meningkatnya kebencian. Setelah tujuh hari berlalu, banyak orang akan terbunuh dan mereka yang selamat akan mulai menyadari kesalahan mereka serta mengembangkan kebajikan kembali. Akibatnya umur manusia akan perlahan-lahan meningkat menjadi tak terhingga dan kemudian turun menjadi 80.000 tahun. Ketika usia manusia 80.000 tahun, Buddha yang akan datang, Metteya, akan muncul di dunia. Tidak ada angka tahun yang pasti antara kemunculan Buddha Gautama dengan kemunculan Buddha Metteya kelak seperti juga tidak ada angka tahun yang pasti antara kemunculan Buddha-Buddha sebelumnya.

Kemudian pada masa yang akan datang yang jauh setelah wafatnya Buddha Metteya, keadaan moral manusia akan semakin memburuk. Pada akhir antara kappa ke-64 akan turun hujan deras yang mengguyur bumi bersama seluruh tata surya lainnya yang menandai akan terjadinya kehancuran alam semesta. Saat inilah siklus akan berulang kembali ke periode kehancuran (samvatta-kappa) di mana alam semesta kita saat ini akan hancur oleh api. Penutup Demikianlah gambaran kosmologi menurut agama Buddha. Walaupun sebagian gambaran kosmologi ini  mendekati konsep astronomi modern, kosmologi Buddhis tidak sepenuhnya sesuai dengan ilmu pengetahuan karena ia menggambarkan proses di alam semesta berdasarkan hukum alam yang juga dipengaruhi oleh perbuatan semua makhluk dan kekuatan para makhluk suci seperti para Bodhisattva dan para Buddha. Sesungguhnya kosmologi Buddhis yang dijelaskan di sini hanya membahas kosmologi temporal (usia dan siklus alam semesta) dan sebagian kosmologi spasial (struktur alam semesta) karena tidak membicarakan tentang alam-alam kehidupan para makhluk dari alam neraka sampai dengan alam Arupabrahma yang semuanya ada 31 alam.

Alam Semesta


Para ilmuwan dewasa ini menyatakan bahwa alam semesta merupakan serangkaian pengembangan, penciutan, pengerutan dan penghancuran berupa ledakan besar (Big Bang) yang berlangsung secara terus menerus tanpa akhir). Sang Buddha telah mengajarkan hal yang sama 2500 tahun yang lalu, berikut adalah apa yg beliau ungkapkan di dalam Bhayaberava Sutta: " Ketika pikiranku yang terkonsentrasi dengan demikian termurnikan, tidak tercela, mengatasi semua kekotoran, dapat diarahkan, mudak diarahkan, serta tenang, Aku memusatkannya pada kelahiran-kelahiran yang lampau, satu, dua, ... ratusan, ribuan, banyak kalpa dari penyusutan dunia, banyak kalpa pengembangan dan penyusutan dunia".

1 kalpa yg lazim dipakai adalah 139.600.000 tahun.

Alam Semesta
Menurut pandangan Buddhis, alam semesta ini luas sekali. Dalam alam semesta terdapat banyak tata surya yang jumlahnya tidak dapat dihitung. Hal ini diterangkan oleh Sang Buddha sebagai jawaban atas pertanyaan bhikkhu Ananda dalam Anguttara Nikaya sebagai berikut :

Ananda apakah kau pernah mendengar tentang seribu Culanika loka dhatu (tata surya kecil) ? ....... Ananda, sejauh matahari dan bulan berotasi pada garis orbitnya, dan sejauh pancaran sinar matahari dan bulan di angkasa, sejauh itulah luas seribu tata surya. Di dalam seribu tata surya terdapat seribu matahari, seribu bulan, seribu Sineru, seribu jambudipa, seribu Aparayojana, seribu Uttarakuru, seribu Pubbavidehana ....... Inilah, Ananda, yang dinamakan seribu tata surya kecil (sahassi culanika lokadhatu). *
Ananda, seribu kali sahassi culanika lokadhatu dinamakan "Dvisahassi majjhimanika lokadhatu". Ananda, seribu kali Dvisahassi majjhimanika lokadhatu dinamakan "Tisahassi Mahasahassi Lokadhatu".
Ananda, bilamana Sang Tathagata mau, maka ia dapat memperdengarkan suara-Nya sampai terdengar di Tisahassi mahasahassi lokadhatu, ataupun melebihi itu lagi.


Sesuai dengan kutipan di atas dalam sebuah Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu terdapat 1.000 x 1.000 = 1.000.000 tata surya. Sedangkan dalam Tisahassi Mahasahassi lokadhatu terdapat 1.000.000 x 1.000 = 1.000.000.000 tata surya. Alam semesta bukan hanya terbatas pada satu milyard tata surya saja, tetapi masih melampauinya lagi. Ajaran ini benar-benar sesuai dengan kosmologi modern.

Buddha juga telah mengajarkan aneka bentuk galaksi yang ada di alam semesta ini sebagaimana yang ada pada Avatamsaka Sutra bab 4:
" Putra-putra Buddha, sistem-sistem dunia tersebut memiliki aneka bentuk dan sifat-sifat yang berbeda. Jelasnya, beberapa diantaranya bulat bentuknya, beberapa diantaranya tidak bulat dan tidak pula segi empat. Ada perbendaan yang tak terhitung. Beberapa bentuknya seperti pusaran, beberapa seperti gunung kilatan cahaya, beberapa seperti pohon, beberapa seperti bunga, beberapa seperti istana, beberapa seperti makhluk hidup, beberapa seperti Buddha..."

Galaksi yang berbentuk seperti pusaran termasuk galaksi kita sendiri, bima sakti, dan galaksi terdekat yaitu Andromeda. Galaksi yang berbentuk seperti makhluk hidup termasuk di antaranya galaksi Nebula Kepala Kuda (horse head nebula). Hal yg paling mengagumkan adalah Sang Buddha telah mengetahui berbagai bentuk galaksi yang keberadaan galaksi-galaksi tersebut baru bisa diketahui para ilmuwan dewasa ini dgn teleskop yang paling canggih.

Sebuah bait dari Salistamba Sutra ayat 37 : "Lebih jauh lagi Sariputra, hal tersebut bagaikan rembulan pada langit yang indah, yang berjarak 42.000 yojana dari bumi".

Yojana merupakan jarak yang ditempuh oleh pasukan berkuda dalam waktu sehari(kurang lebih 10km). Dengan demikian 42.000 yojana = 420.000 km. Hal ini sangat dekat jaraknya dengan penghitungan sains yang mengatakan jarak bumi ke bulan adalah kurang lebih 400.000 km. Akurasi dalam penghitungan jarak bumi ke bulan bisa dianggap luar biasa untuk zaman 2500 tahun yang lalu.

Buddha menyatakan bahwa terjadi empat fase dalam kehidupan suatu sistem dunia yaitu fase kekosongan, fase pembentukan, kediaman, dan kehancuran. Masing2 fase tersebut memakan waktu yg sangat lama, dimana di dalam bahasa Buddhis disebut memakan waktu 20 kalpa menengah. Menurut Buddhisme, pembentukan planet bumi memerlukan 20 kalpa menengah, dimana satu kalpa memakan waktu 139.600.000 tahun.
Berdasarkan rujukan ini, maka masa pembentukan planet bumi (fase pembentukan) memerlukan waktu 2.780.000.000 tahun atau hampir 3 milyar tahun lamanya. Intinya, menurut Buddhisme, pembentukan planet bumi ini memerlukan waktu milyaran tahun, bukan enam hari atau enam ribu tahun. Para ahli astrofisika dan ahli geologi setuju bahwa umur bumi bukan ribuan tahun melainkan sudah milyaran tahun.

2,78 milyar tahun belum termasuk fase kediaman (adanya makhluk yg berdiam). Fase kediaman menurut Buddhisme, sudah memasuki pertengahan kalpa ke 11.
Bila digabungkan dengan fase pembentukan, maka total umur bumi menurut Buddhisme adalah 4.38 milyar tahun (2.78 milyar +(11.5 x 139.600.000)). Adapun menurut estimasi ahli geologi, umur bumi adalah sekitar 4.55 milyar tahun. Kedekatan kedua angka tersebut benar-benar telah mencengangkan banyak orang.

Awal Kehidupan di Muka Bumi

Sudah semenjak zaman dahulu kala, manusia telah berusaha untuk mengetahui asal usulnya. Rasa ingin tahu inilah yang kemudian mendorong mereka untuk menciptakan aneka mitos mengenai penciptaan alam semesta ini. untuk memuaskan rasa ingin tahunya mereka mengarang aneka dongeng. Sayang sekali bahwa ternyata tidak ada satupun dongen tersebut yang benar.

berikut adlh sabda Sang Buddha yg ada di Aganna Sutta yg merupakan sutra ke 27 dari Digha Nikaya:
"Pada waktu itu semuanya merupakan suatu dunia yang terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi yang kelihatan, siang maupun malam belum ada, bulan maupun pertengahan bulan belum ada, tahun-tahun maupun musim-musim belum ada, laki-laki maupun wanita belum ada. Makhluk-makhluk hanya dikenal sebagai makhluk-makhluk saja.."

Sang Buddha telah mengatakan bahwa kehidupan berawal dari air. pernyataan ini tidak bertentangan dengan sains yg mengatakan bahwa bumi pada awalnya berbentuk cair.
Pada saat bumi baru terbentuk, masih terdapat kabut yang disebabkan oleh proses pendinginan bumi. oleh karena itu adanya kabut tebal tersebut, maka matahari dan bintang belum tampak, belum tampak disini bukan berarti belum ada. Hal ini tidak bertentangan dengan sains yang mengatakan bahwa matahari lebih tua dari pada bumi. demikian juga dengan pernyataan Buddha bahwa makhluk-makhluk yang pertama tidak berjenis kelamin.

Kalau kita mempertimbangkan kondisi masyarakat pada ribuan tahun yg lalu yang masih terbelenggu oleh dongeng dan mitos, maka ajaran Buddha terlihat sudah sangat jauh ke depan.

Sang Buddha bukanlah seorang ilmuwan, Buddha menggunakan metoda intuisi dan penembusan langsung untuk memahami corak fenomena dengan kekuatan batin, lain halnya dengan pendekatan ilmiah yang memerlukan perangkat lunak dan keras dalam mencapai suatu kesimpulan. 

Tak Terhingga

Agama Buddha juga mengemukakan tentang ketidakterbatasan waktu, berikut adalah kutipan dari pertanyaan seorang Buddhis kepada Sang Buddha di dalam Samyuta Nikaya XV:5:
'Dapatkah ia dilukiskan, O, Bhagavat (Sang Buddha), dengan sebuah perumpamaan?"

"Bisa, wahai Saudara," demikianlah yang dikatakan Bhagavat, 'bayangkanlah sebuah gunung karang curam, yang panjang, lebar, dan tingginya, masing-masing satu yojana, tanpa sedikitpun retakan, tidak berongga, suatu massa batu yang padat, dan seseorang akan datang pada akhir tiap abad, dan dengan sutera halus Kasi menggosok gunung batu tersebut aus seluruhnya, atau habis seluruhnya, masih lebih lama satu kalpa. Demikianlah lamanya satu kalpa...demikianlah banyak kalpa telah berlalu, banyak ratusan kalpa, banyak ribuan kalpa, banyak ratusan ribu kalpa telah berlalu...Bagaimana ini? Tak terhitunglah awal mula itu, wahai Saudara,...Waktu yang paling awal tidak dapat diketahui keberadaannya...."

Menurut Buddhisme, fenomena tidak lahir secara spontan, melainkan melalui proses penyatuan dan penggabungan aneka sebab-musabab dan kondisi-kondisi tertentu.
Dalam Avatamsaka Sutra bab 37 tertera:

"Sebagaimana dengan miliaran planet, alam semesta tidaklah terbentuk hanya karena satu kondisi saja, tidak oleh satu fenomena saja, alam semesta hanya dapat terbentuk oleh aneka sebab-musabab dan kondisi-kondisi yang tak terhitung.

Kiamat

Pada suatu ketika bumi kita ini akan hancur lebur dan tidak ada. Tapi hancur leburnya bumi kita ini atau kiamat bukanlah merupakan akhir dari kehidupan kita. Karena di alam semesta ini tetap berlangsung pula evolusi terjadinya bumi. Lagi pula, bumi kehidupan manusia bukan hanya bumi kita ini saja tetapi ada banyak bumi lain yang terdapat dalam tata surya - tata surya yang tersebar di alam semesta ini.

Kiamat atau hancur leburnya bumi kita ini menurut Anguttara Nikaya, Sattakanipata diakibatkan oleh terjadinya musim kemarau yang lama sekali. Selanjutnya dengan berlangsungnya musim kemarau yang panjang ini muncullah matahari yang kedua, lalu dengan berselangnya suatu masa yang lama matahari ketiga muncul, matahari keempat, matahari kelima, matahari keenam dan akhirnya muncul matahari ketujuh. Pada waktu matahari ketujuh muncul, bumi kita terbakar hingga menjadi debu dan lenyap bertebaran di alam semesta.

Pemunculan matahari kedua, ketiga dan lain-lain bukan berarti matahari-matahari itu tiba-tiba terjadi dan muncul di angkasa, tetapi matahari-matahari tersebut telah ada di alam semesta kita ini. Dalam setiap tata surya terdapat matahari pula.

Menurut ilmu pengetahuan bahwa setiap planet, tata surya, dan galaxi beredar menurut garis orbitnya masing-masing. Tetapi kita sadari pula, karena banyaknya tata surya di alam semesta kita ini, maka pada suatu masa garis edar tata surya kita akan bersilangan dengan garis orbit tata surya lain, sehingga setelah masa yang lama ada tata surya yang lain lagi yang bersilangan orbitnya dengan tata surya kita. Akhirnya tata surya ketujuh menyilangi garis orbit tata surya kita, sehingga tujuh buah matahari menyinari bumi kita ini. Baiklah kita ikuti uraian tentang kiamat yang dikhotbahkan oleh Sang Buddha kepada para bhikkhu:

Bhikkhu, akan tiba suatu masa setelah bertahun-tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, atau ratusan ribu tahun, tidak ada hujan. Ketika tidak ada hujan, maka semua bibit tanaman seperti bibit sayuran, pohon penghasil obat-obatan, pohon-pohon palem dan pohon-pohon besar di hutan menjadi layu, kering dan mati .....

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kedua muncul. Ketika matahari kedua muncul, maka semua sungai kecil dan danau kecil surut, kering dan tiada .....

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yanglama, matahari ketiga muncul. Ketika matahari ketiga muncul, maka semua sungai besar, yaitu sungai Gangga, Yamuna, Aciravati, Sarabhu dan Mahi surut, kering dan tiada .....

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keempat muncul. Ketika matahari keempat muncul, maka semua danau besar tempat bermuaranya sungai-sungai besar, yaitu danau Anotatta, Sihapapata, Rathakara, Kannamunda, Kunala, Chaddanta, dan Mandakini surut, kering dan tiada .....

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kelima muncul. Ketika matahari kelima muncul, maka air maha samudra surut 100 yojana*, lalu surut 200 yojana, 300 yojana, 400 yojana, 500 yojana, 600 yojana dan surut 700 yojana. Air maha samudra tersisa sedalam tujuh pohon palem, enam, lima, empat, tiga, dua pohon palem, dan hanya sedalam sebatang pohon palem. Selanjutnya, air maha samudra tersisa sedalam tinggi tujuh orang, enam, lima, empat, tiga, dua dan hanya sedalam tinggi seorang saja, lalu dalam airnya setinggi pinggang, setinggi lutut, hingga airnya surut sampai sedalam tinggi mata kaki.

Para bhikkhu, bagaikan di musim rontok, ketika terjadi hujan dengan tetes air hujan yang besar, mengakibatkan ada lumpur di bekas tapak-tapak kaki sapi, demikianlah dimana-mana air yang tersisa dari maha samudra hanya bagaikan lumpur yang ada di bekas tapak-tapak kaki sapi.

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keenam muncul. Ketika matahari keenam muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung, mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap. Para bhikkhu, bagaikan tungku pembakaran periuk yang mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap, begitulah yang terjadi dengan bumi ini.

Demikianlah, para bhikkhu, semua bentuk (sangkhara) apa pun adalah tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikkan, bebaskanlah diri kamu dari semua hal.

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari ketujuh muncul. Ketika matahari ketujuh muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung terbakar, menyala berkobar-kobar, dan menjadi seperti bola api yang berpijar. Cahaya nyala kebakaran sampai terlihat di alam Brahma, demikian pula dengan debu asap dari bumi dengan gunung Sineru tertiup angin sampai ke alam Brahma.

Bagian-bagian dari puncak gunung Sineru setinggi 1, 2, 3, 4, 5 ratus yojana terbakar dan menyala ditaklukkan oleh amukan nyala yang berkobar-kobar, hancur lebur. Disebabkan oleh nyala yang berkobar-kobar bumi dengan gunung Sineru hangus total tanpa ada bara maupun abu yang tersisa. Bagaikan mentega atau minyak yang terbakar hangus tanpa sisa. Demikian pula bumi maupun debu tidak tersisa sama sekali.

Video Profile Kang Widi

Menerima Apresiasi Guru PAB Inovatif Tahun 2025

Menerima Apresiasi Guru PAB Inovatif Tahun 2025
Bersama Menteri Agama RI, Bapak Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.

Subscribe Media Belajar Temanggung

Subscribe Channel SBC Kendal


Sosok Inspiratif Cerdas Berkarakter Tahun 2022

Sosok Inspiratif Cerdas Berkarakter Tahun 2022

Bersama Bupati Kendal dan Kepala Disdik Kab. Kendal

Bersama Bupati Kendal dan Kepala Disdik Kab. Kendal
Menerima Apresiasi atas Prestasi sebagai TOP 6 ASN Inspiratif tahun 2021

52 Terbaik PNS Inspiratif 2018

Menerima Anugerah Bupati Kendal Award 2018

Menerima Anugerah Bupati Kendal Award 2018
Bersama Bupati Kendal Ibu dr. Mirna Annisa, M.Si. Menerima Anugerah Bupati Kendal Award 2018 Kategori Pegiat Pendidikan
Instagram

Translate

Popular Post

Cara merekam dan mengedit vocal pada Adobe Audition CS-6 Bagian 1

Gambar 1: Halaman Awal Aplikasi Adobe Audition CS-6 S alam Kreatif dan Inovatif, Para pembaca sekalian yang berbahagia, pada k...

Popular Posts